Selasa, 26 Mei 2009


RENUNGAN UNTUK PARA PEMUDA


Category: renungan


“Semoga Allah memberikan keberkahan kepada kedua mempelai di kala suka maupun duka.Serta menyatukan mereka berdua dalam kebaikan.”
Sungguh di antara hal-hal yang menggembirakan saat ini, kita lihat para pemuda muslim berhasrat kuat untuk menikah, meskipun banyak kesulitan yang harus mereka hadapi dan begitu besar biaya yang mereka tanggung. Hal itu tidak lain semata-mata karena keinginan mereka untuk mencari jalan yang halal, dan benar-benar untuk menjaga kesucian diri mereka, serta demi mewujudkan cita-cita membangun keluarga muslim yang akan menjadi salah satu bagian terpenting dalam membangun masyarakat, bahkan umat Islam seluruhnya.
1. Pernikahan Merupakan Petunjuk Para Nabi Dan Rasul ‘alaihimussalam.

Barangsiapa yang membencinya, sungguh dia telah menyelisihi sunnah dan menentang petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Demi Allah!! Sungguh aku Adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala di antara kalian. Tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka, aku shalat dan aku juga tidur , aku pun menikahi wanita-wanita. Barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku, maka ia bukan termasuk umatku.” (Muttafaq ‘alaih).
2. Pernikahan Sebagai Realisasi Dari Memenuhi Panggilan Allah subhanahu wata’ala.

Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 32)
3. Pernikahan Adalah Panggilan Fitrah.Barangsiapa yang meninggalkannya dan mencari selain dari itu, sungguh ia telah menyelisihi fitrah tersebut.

Dan barangsiapa yang menyelisihinya, niscaya ia berada di jurang kehancuran. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)
4. Pernikahan Merupakan Salah Satu Nikmat Allah Yang Paling Agung Bagi Hamba-hamba-Nya, Jalan Menggapai Kasih Sayang, Langkah Menuju Bahagia, Tanda Kemapanan, Dan Sarana Untuk Meraih Anugrah.

Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
5. Pernikahan Adalah Jalan Syar’i Untuk Menyalurkan Kebutuhan Biologis Dan Syahwat Secara Halal.

Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; Maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas”. (QS. Al-Mu’minun: 5-7)
6. Pernikahan Sebagai Perisai Para Pemuda Dan Pemudi Dari Fitnah Dan Penyimpangan, Kefasikan Dan Kemaksiatan.Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan kepada para pemuda untuk segera menikah.

Sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam , “Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian ada yang mampu menikah, maka hendaklah ia menikah. Sungguh ia (pernikahan) dapat lebih menahan pandangan dan dapat lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa. Sungguh ia adalah peredam baginya.” (Muttafaq ‘alaih).
7. Pernikahan Jalan Mudah Untuk Meraih Pahala Dari Allah subhanahu wata’ala.

Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabar kan kepada kita bahwa sebaik-baik infak adalah infak yang diberikan kepada istri dan keluarga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Satu dinar yang kamu infakkan di jalan Allah, dan satu dinar yang kamu infakkan untuk membebaskan budak, dan satu dinar yang kamu sedekahkan untuk orang miskin, dan satu dinar yang kamu infakkan untuk istrimu, maka yang paling utama adalah satu dinar yang kamu infakkan untuk istrimu.” (HR. Muslim).Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pula kepada Sa’ad bin Abi Waqas radhiyallahu ‘anhu, “Sungguh tidaklah kamu menginfakkan suatu infak semata untuk mencari wajah Allah, melainkan kamu mendapatkan pahala padanya. Bahkan apa yang kamu letakkan pada mulut istrimu.” (Muttafaq ‘alaih).Dan yang lebih agung dari itu semua adalah pahala yang diberikan kepada suami dan istri tatkala melakukan hubungan intim (bersetubuh). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dan dalam persetubuhan kalian terdapat sedekah” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah! Salah seorang di antara kami menyalurkan syahwatnya (kepada istrinya). Apakah ia mendapatkan pahala padanya?! Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Bagaimana menurutmu, seandai nya seseorang menyalurkan syahwatnya pada suatu yang haram, apakah ia berdosa? Maka demikian sebaliknya jika ia menyalur kannya pada suatu yang halal, ia mendapat kan pahala.” (HR. Muslim)
8. Pernikahan Yang Sukses Adalah Yang Dibangun Di Atas Dasar-dasar Syar’i Yang Benar.

Di antara dasar-dasar tersebut yang paling agung adalah keshalihan pasangan suami istri.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika datang kepadamu seorang lelaki yang kamu sukai (ridhai) agama dan akhlaknya, nikahkanlah ia (dengan putrimu), jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi ini.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al-Albani).Seseorang bertanya kepada Al-Hasan rahimahullah, “Kepada siapa selayaknya aku menikahkan putriku?” ia menjawab, “Kepada lelaki yang bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala. Sesungguhnya jika ia mencintai putrimu, ia tentu akan memuliakannya. Dan jika ia membencinya, niscaya ia tidak akan berbuat aniaya terhadapnya.”Suami yang memiliki agama sudah barang tentu tidak akan berbuat zhalim terhadap istrinya saat ia marah, tidak mendiamkannya tanpa sebab, tidak bersikap buruk ketika mempergaulinya, dan juga tidak menjadi fitnah bagi istri/keluarganya dengan membawa sesuatu yang mungkar, atau alat-alat yang melalaikan (musik, orkes, film, dsb) ke dalam rumah. Akan tetapi ia akan berbuat dan bersikap seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam , “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya, dan aku adalah sebaik-baik kalian terhadap keluargaku”. (HR. Ibnu Majah)Maka sudah sepatutnya para wali perempuan untuk selalu melihat dan mengutamakan agama dan akhlak seorang lelaki yang akan menjadi suami bagi putrinya. Karena sesungguhnya seorang perempuan akan menjadi tawanan dengan pernikahannya tersebut. Sedangkan seorang wali yang menikahkan putrinya dengan lelaki fasik dan gemar berbuat maksiat/bid’ah, sungguh ia telah berbuat aniaya terhadap putrinya dan dirinya sendiri.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wanita dinikahi karena empat hal, yakni: Karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka raihlah keberuntungan dengan memilih wanita karena agamanya, jika tidak, maka merugilah” (HR. Muslim).Seorang istri yang memiliki agama, ia senantiasa patuh kepada suaminya dalam segala hal, selain maksiat kepada Allah, menjaga dirinya dan harta suaminya, tatkala sang suami tak ada di sisinya. Ia tidak meninggalkan maupun mengabaikan hubungan suami-istri, tidak keluar rumah tanpa sepengetahuan suaminya, juga tidak berpuasa sunnah sedangkan suami sedang bersamanya, kecuali dengan izinnya. Dan ia tidak mengizinkan siapa pun yang tidak disukai suaminya masuk ke dalam rumahnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah seorang istri berpuasa (sunnah) sedangkan suaminya bersamanya, kecuali dengan idzinnya.” (Muttafaq ‘alaih).
9. Pernikahan Merupakan Kekuatan Umat, Membentuk Generasi-generasi Pemuda Baru Dan Dapat Menggentar kan Musuh-musuh Islam.

Pernikahan merupakan satu wasilah (sarana) untuk meningkatkan kuantitas (jumlah) umat dan memakmurkan bumi Allah subhanahu wata’ala. Oleh karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menganjur kan untuk menikahi wanita-wanita yang memiliki banyak keturunan/subur (al-walud). Sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, “Nikahilah wanita yang penyayang lagi memiliki banyak keturunan (subur), maka sesungguhnya aku akan berbangga-bangga dengan kalian di depan umat lainnya pada hari Kiamat.” (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i dan Ahmad).
10. Pernikahan Sebagai Sarana Perkenalan dan Pertemuan Di Antara Beberapa Keluarga.Sehingga terjalinlah kasih sayang dan persaudaraan di antara kaum muslimin.

Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al-Hujurat: 13)Sejarah telah membuktikan, bahwa banyak suku dan bangsa yang dahulu tidak pernah akur, saling berseteru satu dengan yang lainnya, bahkan seakan menjadi permusuhan yang abadi dan peperangan yang tak ada akhirnya, maka tatkala terjadi pernikahan silang di antara suku-suku dan bangsa-bangsa yang berseteru tersebut, hilanglah permusuhan dan padamlah api kemarahan, berganti kasih sayang dan persaudaraan serta rahmat dan saling tolong-menolong di antara mereka. Wallahu a’lam.

Peran Media dalam Dakwah Islam


Media Komunikasi Modern (TV) sebagai Alat untuk Menghancurkan Sebuah Generasi.
Pakar komunikasi Rogers & Shoemaker menyatakan bahwa komunikasi adalah proses pesan yg disampaikan dari sumber kepada penerima. Komunikasi yg menyebar melalui media massa akan memiliki dampak vertikal (mengalami taraf internalisasi/penghayatan) apalagi jk para tokoh (opinion-leaders) ikut menebarkannya. Sementara pakar komunikasi lain, Lazarfield menyatakan bahwa jalannya pesan melalui media massa akan sangat mempengaruhi masyarakat penerimanya.
Peran merusak dari media komunikasi modern, khususnya TV terhadap sebuah generasi menurut penulis dapat dilihat dari dua aspek sbb :
Ø Aspek kehadirannya : Terjadinya perubahan penjadwalan kegiatan sehari2 dalam keluarga muslim dan muslimah. Sebagai contoh adalah, waktu selepas maghrib yang biasanya digunakan anak2 muslim/ah untuk mengaji dan belajar agama berubah dengan menonton acara2 yang kebanyakan tidak bermanfaat atau bahkan merusak. Sementara bagi para remaja dan orangtua, selepas bekerja atau sekolah dibandingkan datang ke pengajian dan majlis2 taâlim atau membaca buku, kebanyakan lebih senang menghabiskan waktunya dengan menonton TV. Sebenarnya TV dapat menjadi sarana dakwah yang luarbiasa, sesuai dengan teori komunikasi yang menyatakan bahwa media audio-visual memiliki pengaruh yang tertinggi dalam membentuk kepribadian seseorang maupun masyarakat, asal dikemas dan dirancang agar sesuai dengan nilai2 yg Islami.
Ø Aspek Isinya : Berbicara mengenai isi yang ditampilkan oleh media massa diantaranya adalah mengenai penokohan/orang2 yang diidolakan. Media massa yang ada tidak berusaha untuk ikut mendidik bangsa dan masyarakat dengan menokohkan para ulama ataupun ilmuwan serta orang2 yang dapat mendorong bagi terbangunnya bangsa agar dapat mencapai kemajuan (baik IMTAK maupun IPTEK) sebagaimana yang digembar-gemborkan, sebaliknya justru tokoh yang terus-menerus diekspos dan ditampilkan adalah para selebriti yang menjalankan gaya hidup borjuis, menghambur2kan uang (tabdzir) jauh dari memiliki IPTEK apalagi dari nilai2 agama. Hal ini jelas demikian besar dampaknya kepada generasi muda dalam memilih dan menentukan gaya hidup serta cita2nya dan tentunya pada kualitas bangsa dan negara. Produk lain dari GF yang menonjol dalam media TV misalnya, adalah porsi film2 yang Islami yang hampir2 boleh dikatakan tidak ada, 90% film yang diputar adalah bergaya hidup Barat, sisanya adalah film nasional (yang juga meniru Barat), lalu diikuti film2 Mandarin dan film2 India. Hal ini bukan karena tidak adanya film2 yg islami atau kurangnya minat pemirsa thd film2 islami, karena penayangan film the message misalnya menimbulkan animo yg luar-biasa dikalangan masyarakat atau film seperti Children of Heaven mampu mendapatkan award untuk film anak budaya terbaik dunia. Tetapi masalahnya memang lebih karena tidak adanya political-will dikalangan pengelola stasiun TV yg ada.

Ghazwul fikri [perang pemikiran]
Setidaknya ada beberapa cara yang digunakan pers Barat untuk menyebarkan berita-berita (news) dan opini/ide (views) yang mengeliminasi Islam. Yang pertama adalah tasykik, yaitu suatu upaya untuk menciptakan keragu-raguan dan pendangkalan kaum Muslimin terhadap agamanya. Ujung-ujungnya, hal itu sanggup meruntuhkan keyakinan umat Islam dalam mempercayai Islam yang berlandaskan al-Qur'an dan Sunnah. Kemudian cara yang kedua adalah tasywih, yakni upaya untuk menghilangkan kebanggaan kaum Muslimin terhadap Islam dengan cara memberikan gambaran Islam secara buruk. Islam itu sadis, kejam, dan mengajarkan terorisme. Hal ini akan membuat kaum muslinin rendah diri dan pesimis atas agamanya sendiri.
Berikutnya yang ketiga adalah tadzwib, yaitu upaya pelarutan budaya dan pemikiran dari kaum muslimin, sehingga tak ada jarak antara pemikiran dan budaya Islam dengan pemikiran dan budaya bukan Islam, tidak jelas mana hitam yang bathil dan mana putih yang haq, semuanya “diabu-abukan”. Hal ini yang mendasari menancapnya pluralisme dan sinkretisme di benak kaum muslimin. Dan yang keempat adalah taghrib, yakni upaya untuk mengeringkan nilai-nilai Islam dari jiwa kaum muslimin dan mengisinya dengan nilai-nilai barat yang hedonis, salibis-zionis hingga atheis. Empat senjata inilah yang terus ditikamkan oleh pers Barat ke tubuh kaum muslimin.
Sayangnya kita belum memiliki perisai yang cukup tangguh untuk menghindari tikaman senjata itu. Kita lebih sering terluka dan melawan dengan tertatih-tatih menghadapi serangan mereka. Tidak banyak diantara kaum muslimin yang sadar akan lemahnya umat Islam di dunia pers dan penguasaan dunia jurnalistik. Masih sangat sedikit diantara para pecinta Rasulullah yang sadar bahwa bahasa tulis bisa melintasi dimensi waktu lebih lama, melewati batas ruang lebih mudah, dan tercerap lebih mudah di benak karena visualisasi teks yang dibaca.
Harusnya kita tahu peran strategis penguasaan media massa dalam dakwah Islam. Gara-gara dibantu kekuatan pers, Lenin mencapai titik puncak gerakan revolusi di Uni Soviet dan berkata, “Waspadalah terhadap kekuatan pers!”. Sementara itu, J.F. Kennedy, salah satu dari beberapa presiden Amerika Serikat yang tewas terbunuh saat berkuasa justru menyatakan bahwa ia lebih takut kepada seorang wartawan ketimbang seribu tentara. Bahkan jauh-jauh hari, Sayyidina Ali karomaLlahu wajhah pernah berkata, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”, karena, masih kata beliau, “Tulisan adalah tamannya para ulama”. Jadi, sudah saatnya kita mengambil alih dominasi Barat dalam dunia pers kita, khususnya dalam menghindarkan kaum muslimin dari empat senjata pers Barat yang telah tersebut tadi. Allah berfirman, “Oleh sebab itu, siapa saja yang menyerang kalian, seranglah dia, seimbang dengan serangannya terhadap kalian.” (QS al-Baqarah [2]: 194), dan juga, “Persiapkanlah untuk (menghadapi) mereka kekuatan apa saja yang mampu kalian (persiapkan), dan juga menambatkan kuda. Dengannya, kalian akan bisa menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian.” (QS al-Anfal [8]: 60).
Harus diingat bahwa dakwah Islam harus dikerjakan secara profesional. Betul, karena jika dakwah tidak dilakukan dengan profesional, akan terbuktilah ucapan Imam Ali ibn Abi Thalib, “Al-Haqq bi la nidzam yaghlibuhu al-bathil bi al-nidzam”, kebenaran yang tidak di-manage secara profesional akan dihancurkan oleh kebatilan yang di-manage secara profesional. Inti profesionalisme ada tiga, yaitu: (1) kafa’ah, maksudnya cakap atau ahli dalam profesi yang dilakukan; (2) himmatul-‘amal, adalah memiliki semangat atau etos kerja yang tinggi; dan (3) amanah, yakni bertanggung jawab dan terpercaya dalam menjalankan setiap tugas atau kewajibannya.
Maka dalam menajamkan peran pers Islam, setidaknya harus dilakukan langkah-langkah berikut:
Memberikan pemahaman pada kaum muslimin akan perang pemikiran yang dilancarkan musuh-musuh Islam untuk membinakan Islam.
Menyadarkan kaum muslimin akan peran strategis pers dalam membentuk pemahaman umum, dan lemahnya pers Islam kini.
Meningkatkan kemampuan kaum muslimin dalam menulis, mengelola pers dan menciptakan inovasi-inovasi dalam dunia jurnalistik.
Mengajak seluruh komponen umat untuk bekerjasama menajamkan peran pers untuk dakwah Islam, bagi yang mampu mendanai memberikan bantuan finansial, bagi pemerintah memberikan kemudahan dan fasilitas yang memadai dan bagi insan pers muslim berusaha keras untuk melawan dominasi news dan views Barat.
Dimulai dari yang kecil, dimulai saat ini, tapi mari kita mulai bersama-sama.
InsyaALlah, jika hal tersebut dipahami dan dilakukan kaum muslimin, maka perisai kita akan sanggup menghadapi tebasan senjata pers Barat.


Pembentukan Opini
Islam terus dikesankan sebagai ajaran yang angker. Tak diragukan lagi, upaya ini ditopang oleh media-media massa Barat secara kolektif. Media-media barat dapat dikatakan sebagai eksekutor konspirasi Islamphobia. Hal ini lah yang membuat kalangan budaya dan media-media massa dunia Islam gencar mereaksi propaganda Barat yang menyudutkan Islam. Terkait hal ini, konferensi yang mengangkat topik, Tugas Kolektif Media-Media Massa dan Teknologi Informasi dalam Meluruskan Informasi Islam, digelar di Tunisia pada tanggal 5 hingga 7 Mei. Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization (ISESCO) sebagai penyelenggara konferensi tersebut, berupaya menentukan visi bersama di kalangan media-media massa dunia Islam, dalam rangka menghadapi segala bentuk Islamphobia yang dikembangkan oleh Barat.
Di Barat, khususnya di AS dan negara-negara Eropa, berbagai media massa dimanfaatkan untuk menghantam ajaran Islam. Hingga kini, beberapa film bioskop dan televisi yang menghina Islam, telah ditayangkan. Sebagai contoh, film Fitna adalah salah satu film yang benar-benar menyimpangkan Islam dan Al-Quran. Lebih dari itu, berita-berita minor sedemikian rupa dikemas media-media massa Barat untuk mengambarkan penganut ajaran Islam yang radikal dan terbelakang. Hal itu dapat dilihat dari pemberitaan minor dan penyimpangan fakta yang terjadi di Palestina, Irak dan Afghanistan. Media-media Barat dari koran, radio hingga televisi, secara kompak mempropagandakan anti Islam melalui artikel dan karikatur-karikatur yang mendiskreditkan agama ini. Denmark adalah negara yang cukup diikenal mempublikasikan karikatur penghinaan terhadap Nabi Besar Muhammad Saw, bahkan hal itu dilakukan hingga beberapa kali.
Kini, ummat Islam sangat menyadari bahwa media dapat dijadikan sebagai salah satu alat untuk menghadapi propaganda anti Islam. Melalui media, ummat Islam juga dapat meng-counter isu-isu minor yang memojokkan agama ini. Dengan demikian, ummat Islam menggunakan senjata yang juga digunakan oleh Barat dalam menyerang Islam, yaitu media. Salah satu contoh untuk mencerminkan wajah Islam yang sebenarnya adalah membuat film kehidupan Rasulullah Saw dengan mencerminkan budi bekerti dan akhlak mulia sosok ini, khususnya perilaku beliau Saw dengan pemeluk agama lain. Selain itu, hal yang juga dapat dilakukan adalah penulisan buku, makalah dan wawancara dengan para pakar yang mengulas tentang potensi ajaran Islam untuk menyelesaikan problema manusia yang sekaligus menjawab isu-isu miring tentang agama langit ini. Meski sebagian agenda dalam meng-counter propaganda anti Islam sudah dilakukan, namun upaya itu masih belum cukup menyusul propaganda luas Barat yang terus menyuarakan anti Islam.
Untuk menghadapi serangan media Barat terhadap Islam, kendala utama adalah tidak adanya koordinasi antarmedia Islam. Pada saat yang sama, media-media Barat secara kompak menyudutkan Islam. Sebagai contoh, tidak lama setelah koran Denmark mempublikasikan karikatur penistaan terhadap Rasulullah Saww, koran-koran Barat lainnya melakukan hal yang sama. Ditambah lagi, propaganda anti Islam dipublikasikan media-media Barat dengan menyebutkan berbagai alasan dan justifikasi. Semua itu dilakukan oleh media-media massa Barat dengan koordinasi yang baik. Namun sangat disayangkan, koordinasi antarmedia tidak ditemukan di dunia Islam.
Salah satu kendala lain yang dihadapi media-media Islam adalah tidak adanya sensitivitas dalam mendakwahkan Islam. Sangat disayangkan pula, media-media Islam tidak mempunyai kepercayaan diri dalam menghadapi propaganda anti Islam, bahkan menilai pembelaan atas Islam sebagai hal yang bukan bagian dari tugasnya. Padahal konsumen mereka adalah ummat Islam sendiri yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama mereka.
Konferensi Tugas Kolektif Media-Media Massa dan Teknologi Informasi dalam Meluruskan Informasi Islam di Tunisia mengimbau media-media Islam untuk bersikap tidak acuh dalam menghadapi propaganda anti Islam. Akan tetapi hal yang harus diperhatikan bahwa upaya pengenalan nilai dan budaya Islam membutuhkan konsentrasi dan spesialiasi di bidang ini. Hal ini juga harus diimplementasikan oleh para pakar Islam. Sebab, pengenalan yang salah sama halnya mencoreng wajah Islam itu sendiri.
Para peserta konferensi media yang digelar di Tunisia, juga menginginkan pengoperasian televisi yang menayangkan dialog antartokoh agama dan cendikiawan. Dengan cara itu, batas kebebasan berpendapat dapat diperjelas dan segala langkah yang bersifat pelecehan atas Islam, tidak dibenarkan. Sebab, Barat dengan alasan kebebasan berpendapat membenarkan segala ekspresi. Melalui alasan itu, media-media Barat menghina Nabi Besar Muhammad Saww dan melecehkan nilai-nilai islam yang diyakini oleh lebih dari satu setengah milyar warga dunia.
Di konferensi itu juga dirancang kinerja untuk program pendidikan dan dakwah dalam menghadapi dampak-dampak Islamphobia. Salah satu programnya adalah menyisipkan mata kuliah di kampus-kampus mengenai metode anti Islam yang diterapkan Barat dan cara menghadapinya.
Saat ini, media-media Islam mempunyai peran penting dalam menghadapi propaganda anti Islam yang digembar-gemborkan Barat. Meski media-media Islam mempunyai fasilitas yang terbatas, namun mereka bisa melakukan koordinasi yang lebih bagus guna mencerminkan wajah Islam yang sebenarnya. Melalui koordinasi yang kokoh, ambisi media-media Barat dalam memojokkan Islam dapat diantipasi dengan baik.
ü Penutup
Terakhir, perlu diketahui bahwa penjajahan melalui media komunikasi adalah jauh lebih jahat dan berbahaya dari penjajahan fisik. Dari sisi biaya, peperangan fisik membutuhkan biaya yg sangat mahal, sementara peperangan media hanya membutuhkan biaya yg murah dan bahkan dapat dikembalikan (melalui iklan). Dari sisi persenjataan yg digunakan, peperangan fisik menggunakan berbagai senjata canggih yg mahal dan berat, sedangkan peperangan media cukup menggunakan film2, diskusi topik dan iklan. Dari sisi jangkauan, peperangan fisik hanya dibatasi di front2 pertempuran saja, sementara penjajahan media bisa sampai ke setiap rumahjauh di pelosok2 dan di pedalaman. Terakhir dari sisi obyek, dlm peperangan fisik obyek merasakan dan mengadakan perlawanan, sementara melalui peperangan media obyek sama sekali tidak merasa dan bahkan menjadikan penjajahnya sebagai idola. Maka menghadapinya, hanya sebagian kecil orang yg dirahmati ALLAH SWT sajalah yg mampu bersikap mawas, lalu berdisiplin melakukan filterisasi serta terus berjuang membebaskan masyarakat dari makar yg luar-biasa hebatnya ini, Maha Benar ALLAH SWT yg telah berfirman : DAN SUNGGUH MEREKA ITU TELAH MEMBUAT MAKAR YG AMAT BESAR, DAN DISISI ALLAH-LAH (BALASAN) MAKAR MEREKA ITU. DAN SESUNGGUHNYA MAKAR MEREKA ITU HAMPIR-HAMPIR DAPAT MELENYAPKAN GUNUNG-GUNUNGPUN (KARENA BESARNYA). (Ibrahim, 14:46). Maka ambillah pelajaran wahai orang2 yg berakal…

Selasa, 19 Mei 2009

Umat Islam Dipersimpangan Jalan
"Dibawah kemanakah Umat Paska Pilpres...?"

Akbar S. Ahmed (1992) pernah mengungkapkan, "tidak ada ancaman yang lebih gawat terhadap eksistensi masyarakat Islam daripada ancaman serbuan media Barat". Pada hakekatnya, serbuan media Barat ini jauh lebih berbahaya dari masa kolonial di abad yang lalu. Bagi kaum muslimin, media Barat mengancam pada titik yang paling dasar dari kehidupan keluarga Muslim.

Baik disadari ataupun tidak. Perkataan kita, kebiasaan kita, canda tawa kita, tidak akan jauh berbeda dengan apa yang kita dengar, lihat dan saksikan di media massa, televisi misalnya. Secara tidak langsung juga, pola hidup dan tingkah laku kita dibawah bimbingan media massa yang senantiasa menyertai dan melingkupi kehidupan kita saban hari. Dan tentunya, sosok remaja muslim termasuk salah satu sasaran yang paling empuk sistem paradaban modern tersebut.

Generasi muda yang terjerumus dalam seks bebas juga tidak kalah mengerikan. Hasil temuan FKM Unair menyebutkan bahwa pengidap AIDS terbanyak di kalangan remaja. Dari 100 responden remaja yang diteliti, FKM mendapatkan kesimpulan bahwa 22,9 persen remaja usia 15 hingga 19 tahun telah terkana virus HIV/AIDS. Sedangkan remaja usia 20 hingga 24 tahun yang tejangkit mencapai 77,1 persen. Fantastis dan sungguh mengerikan ! (Republika, 18/11/1997).

Tawuran remaja bukan sekedar kasus satu dua lagi, tetapi sudah merupakan "trend" remaja-remaja SMU maupun SMP. Bahkan mahasiswa yang kita anggap sudah matang cara berfikir dan bertindaknya, beberapa waktu yang lalu, juga ikut-ikutan tawuran. Sungguh-sungguh sangat memalukan!

Tapi, pemuda apa selalu begitu, selalu terpojokkan dengan tuduhan mendiskreditkan tanpa syarat. In fact, ada juga remaja atau generasi yang masih mendapat gelar pemuda harapan. Kita tengok revolusi Perancis yang menumbangkan kekuasaan Monarkhi, siapakah penggeraknya? Perjuangan pro demokrasi RRC atau Birma, penggeraknya adalah para pemuda. Pemuda Michael Gorbachev ketika berusia 18 tahun menulis "Lenin adalah ayahku, guruku dan Tuhanku". Demonstrasi kolektif menuntut adanya reformasi Indonesia, notabene juga para mahasiswa yang pemuda.
Di negerinya Mak Lampir ini, Islam menjadi representatif Indonesia, ketika Indonesia baik maka baiklah Islamnya, ketika Indonesia tertuduh maka tertuduhlah Islam. Artinya ketika terjadi krisis generasi, maka Islamlah representatif itu semua. Sebab mayoritas pemuda yang sudah tercoreng keburukannya adalah orang islam, anaknya orang Islam, saudaranya orang Islam. Pertanyaanya kemudian, sebagai saudaranya, apakah kita diam menyaksikan pemandangan yang tentu tidak sedap dipandang itu? Apakah kita menunggu diri kita juga ikut terjerat bersama jaring-jaring laba-laba yang sudah pasti sangat lemah dan tidak bisa diharapkan itu? Dan apakah Islam tidak memiliki formula bagi kasus yang sudah terlanjur dibiarkan meradang tersebut?

Tidak Memandang Sebelah Mata

Dalam Al-Qur'an terdapat banyak kisah keberanian pemuda. Ada pemuda Ashabul Kahfi, pemuda Musa, Pemuda Yusuf yang terkenal ketampannya dan menggiurkan naluri seks isteri raja. Juga pemuda Ibrahim yang dengan gagahnya menentang sesembahan Ayah dan kaumnya pada waktu itu (Qs. Al-Anbiya 60, As-Syu'ara 72, Al-Anbiya 58). Rasulullah sendiri ketika diangkat sebagai Rasul masih kategori pemuda, para sahabat yang dibina Rasulullah di Darul Arqam juga para pemuda. Diantaranya Ali bin Abi Thalib (8 th), Thalhah (11 th), Arqam (12 th), Abdullah bin Masud (14 th) yang akhirnya terkenal sebagai ahli tafsir. Sa'ad bin Abi Waqash (17 th) panglima perang yang menundukkan Persia. Ja'far (18 th), Zaid bin Haritsah (20 th) Usman bin Affan (20 th) dll. Pemuda macam tersebut diatas yang hidupnya didedikasikan hanya untuk kejayaan dan kemuliaan Islam, pemuda seperti itulah yang sanggup memikul beban dakwah dan bersedia berkorban menghadapi berbagai siksaan dengan penuh kesabaran. Bukan pemuda yang lembek, yang tergiur dengan kerlap-kerlipnya dunia, yang mabuk dengan kebebasan, yang fly dengan aneka aktivitas tiada guna.

Meskipun kita hanya punya mata sebelah misalnya, tapi tidak berarti kita boleh memandang persoalan ini dengan sebelah mata, artinya bahwa fakta empiris generasi kita tidak bisa dipandang enteng. Sebab sebagaimana sudah menjadi hal yang maklum bahwa ditangan pemudalah harapan Islam. Tidak bisa ketika terjadi krisis generasi diselesaikan hanya dengan memberi penyuluhan, seminar, diskusi baik tentang seks atau narkoba, tapi perlu keseriuasan semua pihak mulai dari individu, masyarakat dan negara tentunya. Keseriusan itu berbanding lurus dengan prospek kejayaan Islam.

Dulu, Syafii muda telah hafal Al-Qur'an pada usia 9 tahun, Hasan Al-Banna mendirikan gerakan Ikhwanul Muslimin pada usia 23 tahun. Usamah bin Zaid pada usia 18 tahun telah memimpin pasukan perang. Kini kira-kira apa yang tengah dilakukan dan dipikirkan oleh remaja berusia 8 hingga 18 tahun dan pemuda berusia 23 tahunan? Kalau bukan foya-foya, hapy-hapy, menikmati masa muda, buat apa susah-susah mikirkan Islam, khan sudah ada pak ustad, kyai, haji, itu mungkin kira-kira bantahan mereka. Padahal kalau mereka tahu, apa Islam itu sekedar urusannya mbah kyai, mas ustad ataupun pak haji, kalau para ustad, haji dan kyai itu sudah tidak ada siapa yang meneruskan perjuangan Islam, siapa generasinya kalau bukan para pemuda yang sekarang masih duduk di bangku sekolah, yang sukanya tawuran itu.

Jelas dan sangatlah jelas, diperlukan kebangkitan umat khususnya dari kaum mudanya, bila diinginkan kejayaan Islam, diperlukan pemuda Islam sekualitas para sahabat, yang memiliki komitmen tauhid yang lurus, keberanian menegakkan kebenaran, sebagaimana ditunjukkan para sahabat, Rasulullah Saw. atau pada kisah Ibrahim muda. Serta memiliki ketaatan kepada Islam yang tanpa reserve. Dengan dorongan peran pemuda, perjuangan Islam akan berlangsung lebih giat sehingga Islam niscaya akan kembali tegak. Ingatlah, firman Allah Surat An-Nuur 55

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan yang mengerjakan amal sholeh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi ini sebagaimana telah dia jadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoinya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan mereka) sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku"
Pemuda atau generasi Islam adalah mereka yang bisa berpikir kritis, tidak menelan begitu saja pil kebebasan yang bagaikan bola salju yang terus mengelinding dan membesar, tapi pemuda Islam yang bisa menjadikan Islam sebagai satu-satunya standar perbuatan dan pemikiran, kalau tidak generasi kita malah ikut tergilas bersama bola salju kebebasan, sehingga yang tersisa hanya generasi Islam yang tulalit, lamban dalam memutuskan sikap, bahkan sudah sampai pada tahapan tidak bisa memutuskan hukum, tidak punya kepribadian alias manut-manut grubyug.

Trus, kalau udah tahu kondisi umat Islam amat diperhitungkan, pada ngapain kita sebagai generasinya? Diam, berpangku tangan, nunggu bulan jatuh. Tentu tidak, sebagai orang yang cerdas yang ngerti satu tambah satu adalah dua, maka kamu musti berpikir kritis, artinya, kamu kudu merenungkan apa yang dikatakan Syekh Taqiyudin dalam kitab Nidzomul Islam, bahwa manusia itu tingkah lakunya berubah karena pemahamannya terhadap sesuatu berubah. Jadi kalau si Bejo, belum kenal sama si Tejo maka Bejo bersikap lain, tidak sama ketika Bejo sudah kenal ama si Nuno tetangga sebelahnya, mau dipukul, ditendang, diludahi, itu urusan si Bejo ama Nuno yang memang sudah kenal dekat. Coba kalau Bejo nendang si Tejo, bakalan di gampar atau bahkan dilaporkan ama Pak Hansip dikira Bejo kumat gilanya.
Kebangkitan, apaan itu?

Kalau kebetulan kamu suka tidur molor, sering kehilangan subuh, trus emakmu marah, dan nyiramin air ke muka kamu, supaya kamu bangun, itu belum bisa dikatakan bangkit. Kebangkitan yang dimaksud disini adalah seperti Ust. Hafizh Sholeh mensinyalir dalam kitabnya An-Nahdlah bahwa kebangkitan adalah mereka yang mempunyai pemikiran-pemikiran yang tinggi (Al fikr raqiy) atau dalam kitab hadits as-shiyam disebutkan bahwa An-Nahdlah itu mengacu pada meningkatnya taraf berfikir. Jadi kebangkitan itu bukan disebabkan oleh harta (baca : ekonomi) buktinya banyak anaknya orang kaya tapi nggak mau bangkit, hanya ngandalin harta orang tuanya, tapi bukan berarti uang tidak penting, uang tetap penting tapi tidak yang terpenting. Kebangkitan juga bukan karena akhlak mulia, buktinya si Upik anaknya Pak Haji Somat yang sekolah di IAIN ternyata hamil sebelum nikah, juga bukan berarti akhlak tidak perlu, akhlak tetap perlu, tetapi yang menjadi permasalahan kita mengenai pencarian hal utama yang menjadi faktor penentu suatu kebangkitan.

Kita sebagai remaja muslim yang mengebu-gebu untuk mewujudkan An-Nahdlah dikalangan kaum muslimin karena siapa yang menangkap tongkat estafet kalau bukan kita sebagai generasi mudanya, maka yang harus kita benahi adalah cara berfikir, hanya orang-orang yang mau menggunakan akalnya sajalah yang dapat maju. Kalau dikelasmu ada teman, sukanya tidur melulu, nggak pernah nyimak pelajaran, dan suka pinjem catatan teman tapi tidak dibaca, dijamin deh ulangannya pasti sering ngelirik punyanya tetangga alias nyontek.

Nah, itulah contoh orang yang tidak pernah menggunakan akalnya alias nggak mau maju, orang seperti itu tidak akan bangkit. Walaupun dia anak orang kaya yang kalau ke sekolah bawaanya mercy, habis itu dirumah dia punya laptop yang super canggih, bokapnya juragan bawang yang tersohor di kampungnya, dan makanan saben hari sudah pasti mengandung 4 sehat 5 sempurna, tetap saja dia akan jadi anak malas, kalau tetap tidak mau menggunakan akalnya, mendingan ke laut aja, lah, men. Demikian pula umat Islam saat ini, meskipun potensi SDA sangat melimpah, tapi Freeport menggali emas di Jayawijaya, kita hanya diam. Karenanya satu-satunya cara adalah dengan bangkit dari tidur pulasmu, berangkat mandi, biar fress menatap masa depan, ibaratnya gitu.

Kebangkitan yang shahih (benar) yang diletakkan atas asas/pemikiran yang mengaitkan segala aktivitas manusia dengan Allah SWT, sebagai Pencipta, Pengatur dan Pemusnah terhebat, serta mengaitkan pula dengan perintah-perintah dan larangan-laranganNya yang termaktub di Al-Qur'an maupun Hadits. Dengan menjadikan Aqidah Islam sebagai landasan kebangkitan maka kita bisa mandiri dan terbebas dari intervensi asing, Allah SWT menjamin tegaknya Islam dan kehancuran kekafiran :

"Dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah, dan kalimat Allah itulah yang tinggi, Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. At-Taubah 40).
Ente, jangan merasa puas kalau sholat lima waktunya nggak pernah bolong, sudah sering shodaqoh, puasa sunnahnya nggak pernah absen, itu belum cukup. Kamu harus menegakkan kalimat Allah. Nah, bagaimana Islam itu bisa tegak kalau kita disini cuman sibuk main basket, nonton konser, main PS, chating apalagi pacaran. Juga jangan berbangga hati bisa baca Al-Qur'an fasih, hafal ayat-ayatnya tapi nggak mau pakai jilbab, masih muja-muja Westlife. Pokoknya kita harus intergral, harus kaffah menjadi orang Islam.

Barangkali, kamu mengatakan mustahil Islam untuk bangkit dan mengalahkan musuh-musuh Islam, macam negerinya George W. Bush. Jangan pesimis dulu, kekuatan seorang muslim bukan cuma bertumpu pada kekuatan fisik doang, tapi ada kekuatan ruhani (quwatul ruhiyah) yakni kekuatan yang didorong oleh iman, ingat cerita perang Badar, pasukan Islam cuma 300 orang, bisa mengalahkan 1000 orang kafir quraisy yang bersenjata lengkap. Nggak jamin deh, yang punya badan gedhe selalu menang, coba aja kalau ada temanmu yang punya berat 3 kuintal, ajak balap lari, pasti baru 10 langkah, napasnya sudah senin kemis. Nah, ketika memperjuangkan Islam tidak usah ragu-ragu, Allah tidak akan pernah menyalahi janjinya koq :
"Dialah yang mengutus rasulnya dengan petunjuk, agama yang benar, untuk mengalahkan seluruh dien (agama/ajaran) (Qs. Al Fath )

Meniti Langkah Menuju Khoiru Ummat

Seperti yang kita geber diatas, bahwa landasan kebangkitan musti Aqidah Islam yang bertujuan untuk melanjutkan kehidupan islam dengan terealisasinya syariat Islam secara paripurna di seluruh dunia, maka diperlukan langkah riil pula untuk mencapainya. Pertama, hendaknya setiap remaja muslim yang menyadari kewajiban dakwah, memahami islam sebagai suatu mabda' (ideologi) yang darinya terpancar hukum-hukum syara' yang harus eksis sebagai tolok ukur dan dalam pemecahan segala problem aspek kehidupan. Kedua, remaja muslim kudu sadar akan tugasnya dalam dakwah menegakkan kalimat Allah di seluruh pelosok dunia yang karenannya dakwah tidak mungkin bisa sendiri-sendiri tapi harus mengupayakan bersama secara sistematis. Ketiga, remaja muslim musti mantap dalam tsaqofah Islamiyyah agar mampu melakukan pergulatan pemikiran, untuk menangkal berbagai ide-ide yang bertentangan dengan Islam di tengah-tengah masyarakat dan dapat memberikan sanksi Islam terhadap masalah yang ada.

Layaknya, pendekar, tentu mereka mempunyai padepokan, nah padepokan para remaja islam adalah majelis atau halaqah-halaqah, tempat kita mengais-ngais tsaqofah Islam, meramu jurus-jurus yang bakal kita mainkan nantinya. Maka, kamu kudu menimba air eehhhhhh… maksudnya menimba ilmu ilmu keislaman, meluruskan barisan, dan mulai senantiasa memikirkan kepentingan umat Islam. Bagaimanapun juga, harapan umat Islam terletak di tangan kita, maka kita harus eratkan genggaman tangan kita dengan sesama muslim, kita hadang perubahan di masa depan, karena kita sebagai agent of change.

"Perkara ini (Islam) akan merebak di segenap penjuru yang ditembus malam dan siang. Allah tidak akan membiarkan satu rumahpun, baik gedung maupun gubug melainkan Islam akan memasukinya sehingga dapat memuliakan agama yang mulia dan menghinakan agama yang hina. Yang dimuliakan adalah Islam dan yang dihinakan adalah kekufuran" (HR. Ibnu Hibban)

Kepemimpinan Nasional
Dan Konsep Kepemimpinan dalam Islam

Kepemimpinan itu wajib ada, baik secara syar’i ataupun secara ‘aqli. Adapun secara syar’i misalnya tersirat dari firman Allah tentang doa orang-orang yang selamat :)) واجعلنا للمتقين إماما )) “Dan jadikanlah kami sebagai imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa” [QS Al-Furqan : 74]. Demikian pula firman Allah أطيعوا الله و أطيعوا الرسول و أولي الأمر منكم )) )) “Taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul dan para ulul amri diantara kalian” [QS An-Nisaa’ : 59]. Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadits yang sangat terkenal : “Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap dari kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya”. Terdapat pula sebuah hadits yang menyatakan wajibnya menunjuk seorang pemimpin perjalanan diantara tiga orang yang melakukan suatu perjalanan. Adapun secara ‘aqli, suatu tatanan tanpa kepemimpinan pasti akan rusak dan porak poranda.

Kriteria Seorang Pemimpin

Karena seorang pemimpin merupakan khalifah (pengganti) Allah di muka bumi, maka dia harus bisa berfungsi sebagai kepanjangan tangan-Nya. Allah merupakan Rabb semesta alam, yang berarti dzat yang men-tarbiyah seluruh alam. Tarbiyah berarti menumbuhkembangkan menuju kepada kondisi yang lebih baik sekaligus memelihara yang sudah baik. Karena Allah men-tarbiyah seluruh alam, maka seorang pemimpin harus bisa menjadi wasilah bagi tarbiyah Allah tersebut terhadap segenap yang ada di bumi. Jadi, seorang pemimpin harus bisa menjadi murabbiy bagi kehidupan di bumi.

Karena tarbiyah adalah pemeliharaan dan peningkatan, maka murabbiy (yang men-tarbiyah) harus benar-benar memahami hakikat dari segala sesuatu yang menjadi obyek tarbiyah (mutarabbiy, yakni alam). Pemahaman terhadap hakikat alam ini tidak lain adalah ilmu dan hikmah yang berasal dari Allah. Pemahaman terhadap hakikat alam sebetulnya merupakan pemahaman (ma’rifat) terhadap Allah, karena Allah tidak bisa dipahami melalui dzat-Nya dan hanya bisa dipahami melalui ayat-ayat-Nya. Kesimpulannya, seorang pemimpin haruslah seseorang yang benar-benar mengenal Allah, yang pengenalan itu akan tercapai apabila dia memahami dengan baik ayat-ayat Allah yang terucap (Al-Qur’an) dan ayat-ayat-Nya yang tercipta (alam).

Bekal pemahaman (ilmu dan hikmah) bagi seorang pemimpin merupakan bekal paling esensial yang mesti ada. Bekal ini bersifat soft, yang karenanya membutuhkan hardware agar bisa berdaya. Ibn Taimiyyah menyebut hardware ini sebagai al-quwwat, yang bentuknya bisa beragam sesuai dengan kebutuhan. Dari sini bisa disimpulkan bahwa seorang pemimpin harus memiliki dua kriteria: al-‘ilm dan al-quwwat.

Yang dimaksud dengan al-‘ilm (ilmu) tidaklah hanya terbatas pada al-tsaqafah (wawasan). Wawasan hanyalah sarana menuju ilmu. Ilmu pada dasarnya adalah rasa takut kepada Allah. Karena itulah Allah berfirman,”Yang takut kepada Allah diantara para hamba-Nya hanyalah para ulama” (QS. Faathir: 28). Ibnu Mas’ud pun mengatakan,”Bukanlah ilmu itu dengan banyaknya riwayat, akan tetapi ilmu adalah rasa takut kepada Allah”. Namun bagaimana rasa takut itu bisa muncul ? Tentu saja rasa itu muncul sesudah mengenal-Nya, mengenal keperkasaan-Nya, mengenal kepedihan siksa-Nya. Jadi ilmu itu tidak lain adalah ma’rifat kepada Allah. Dengan mengenal Allah, akan muncul integritas pribadi (al-‘adalat wa al-amanat) pada diri seseorang, yang biasa pula diistilahkan sebagai taqwa. Dari sini, dua kriteria pemimpin diatas bisa pula dibahasakan sebagai al-‘adalat wa al-amanat (integritas pribadi) dan al-quwwat.

Selanjutnya, marilah kita tengok bagaimanakah kriteria para penguasa yang digambarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Dalam hal ini kita akan mengamati sosok Raja Thalut (QS. Al-Baqarah: 247), Nabi Yusuf (QS. Yusuf: 22), Nabi Dawud dan Sulaiman (Al-Anbiya’: 79, QS Al-Naml: 15).

Raja Thalut:

“Sesungguhnya Allah telah memilihnya (Thalut) atas kalian dan telah mengkaruniakan kepadanya kelebihan ilmu dan fisik (basthat fi al-‘ilm wa al-jism)” (QS. Al-Baqarah: 247).

Nabi Yusuf:

“Dan ketika dia (Yusuf) telah dewasa, Kami memberikan kepadanya hukm dan ‘ilm” (QS. Yusuf: 22).

Nabi Dawud dan Sulaiman:

“Maka Kami telah memberikan pemahaman tentang hukum (yang lebih tepat) kepada Sulaiman. Dan kepada keduanya (Dawud dan Sulaiman) telah Kami berikan hukm dan ‘ilm” (QS. Al-Anbiya’: 79).

“Dan sungguh Kami telah memberikan ‘ilm kepada Dawud dan Sulaiman” (QS. Al-Naml: 15).

Thalut merupakan seorang raja yang shalih. Allah telah memberikan kepadanya kelebihan ilmu dan fisik. Kelebihan ilmu disini merupakan kriteria pertama (al-‘ilm), sementara kelebihan fisik merupakan kriteria kedua (al-quwwat). Al-quwwat disini berwujud kekuatan fisik karena wujud itulah yang paling dibutuhkan saat itu, karena latar yang ada adalah latar perang.

Yusuf, Dawud, dan Sulaiman merupakan para penguasa yang juga nabi. Masing-masing dari mereka telah dianugerahi hukm dan ‘ilm. Dari sini kita memahami bahwa bekal mereka ialah kedua hal tersebut. Apakah hukm dan ‘ilm itu ?

Hukm berarti jelas dalam melihat yang samar-samar dan bisa melihat segala sesuatu sampai kepada hakikatnya, sehingga bisa memutuskan untuk meletakkan segala sesuatu pada tempatnya (porsinya). Atas dasar ini, secara sederhana hukm biasa diartikan sebagai pemutusan perkara (pengadilan, al-qadha’). Adanya hukm pada diri Dawud, Sulaiman, dan Yusuf merupakan kriteria al-quwwat, yang berarti bahwa mereka memiliki kepiawaian dalam memutuskan perkara (perselisihan) secara cemerlang. Al-quwwat pada diri mereka berwujud dalam bentuk ini karena pada saat itu aspek inilah yang sangat dibutuhkan.

Disamping al-hukm sebagai kriteria kedua (al-quwwat), ketiga orang tersebut juga memiliki bekal al-‘ilm sebagai kriteria pertama (al-‘ilm). Jadi, lengkaplah sudah kriteria kepemimpinan pada diri mereka.

Pada dasarnya, kriteria-kriteria penguasa yang dikemukakan oleh para ulama bermuara pada dua kriteria asasi diatas. Meskipun demikian, sebagian ulama terkadang menambahkan beberapa kriteria (yang sepintas lalu berbeda atau jauh dari dua kriteria asasi diatas), dengan argumentasi mereka masing-masing. Namun, jika kita berusaha memahami hakikat dari kriteria-kriteria tambahan tersebut, niscaya kita dapati bahwa semua itu pun tetap bermuara pada dua kriteria asasi diatas. Wallahu a’lamu bish shawaab.

Senin, 04 Mei 2009

Kemenangan Hakiki

"Innaa fatahnaa lakafathammubiinaa" (Al-Fath:I)
Artinya: Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.
Sebagian ahli tafsir mengatakan asbabunnuzul ayat ini berkenaan dengan peristiwa fathu Mekah, ada juga yang menhgatakan peristiwa penaklukan Rumawi, namun sebagaian besar yagn lain mengatakan asbabunnuzul ayat ini adalah peristiwa perjanjian Hudaibiyah yang dilakukan oleh Rosulullah dengan orang - orang kafir Qurais. peristiwa yang menurut sebagian besar pandangan sahabat Rosulullah masa itu sebagai peristiwa perjanjian yang merigikan dan kekalahan, namun lain menurut pandangan Allah SWT.

Paling tidak ada dua syarat kemenangan yang hakiki itu!!!
  1. Orisinilitas Iman tetap terjaga.
Apa gunanya menang tapi iman kita sudah tercampuri nida-noda syirik, apa gunanya menang tapi perkara yang haram kita langgar dsb. Banyak kasus caleg - caleg yang ingin jadi kemudian mendatangi tempat - tempat keramat, ada juga yang sudah jadi kemudian mandi kembang sebagai persyaratan katanya dan yang memalukan ternyata mereka beragama Islam.

2. Masih memegang teguh etika.
Rosulullah adalah yang terbaik etikanya, bahkan dalam saat genting sekalipun dia tetap berpegang teguh. Kita semua tahu bagaimana ketika Rosulullah ketika berperang, beliau tidak membunuh anak-anak dan perempuan, juga tempat Ibadah, bahkan tanaman yang mau berbuah, Rosulullah melarang untuk merusaknya. Maka sepatutnyalah bagi orang - oragn yang beriman itu menjaga etika dalam berkampanye, aturan-aturan yang sudah ditetapkan oleh KPU misalnya harus dipatuhi, apalagi aturan yang sifatnya berhubungan dengan aturan Allah, riswah/suap atau dalam bahasa kerennya Money Politik. Bukan hanya KPU yang melarang tapi Allah juga mengancam lewat sabda Rosul-Nya "Orang yang menyuap dan yang disuap, sama-sama dineraka". na'udzubillah tsumma na'udzubillah.

Saudaraku Pemilu sudah berlalu, penghitungan tinggal menunggu hasil, meski perkiraan suara sudah ada ditangan. Bisa jadi hasil tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Bisa jadi sangat jauh dibawah perkiraan angka dan bisa jadi diatas perkiraan angka. Sudah banyak sekali dampak yang terjadi dari hasil perkiraan tersebut yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan, banyak media memberitakan banyak caleg yang lantas stress, bunuh diri, berbuat anarkis, menyegel pasar, menyegel rumah, bahkan menarik kembali barang pemberiannya. Semua itu bisa terjadi lantaran rasa frustasi dan kecewa terhadap seseorang, yang diharapkan memberikan dukungan ternyata malah memberikan dukungannya kepada pihak lain. Wajar saja mereka meluapkan emosinya seperti itu.

Mari kita bedah kenapa fenomena seperti itu bisa terjadi. Yang pertama yang saya sampaikan bahwa masyarakat masih memilih pemimpin itu seseorang yang memberkan imbalan akan pilihannya alias dibeli. Ini fenomena terbesar yang sedang melanda ditengah-tengah masyarakat. Siapa yang memberi dialah yang dipilih. Padahal bisa jadi ada orang yang memberi terlebih dahulu tapi tidak jelas akadnya, memberi ya sekedar memberi tidak ada beban psikologis untuk memberikan suaranya. Meskipun sama-sama memberi tapi beda persepsi.

Tidak ada teman yang sejati dan musuh yang abadi dalam berpolitik. Seiring dengan waktu maka semakin berganti pula arah politiknya. Bahkan politik ini tidak memandang apa dia saudara apa dia bukan, dengan politik seseorang bisa dibutakan mata hatinya.

Banyak fenomena yang terjadi ditengah-tengah masyarakat, tugas seorang aktifis politik atau orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai demikrasi hendaknya senantiasa memberikan contoh dan pembelajaran bagaimana berpolitik yang ideal dengan tidak mengikuti arus politik yang membutakan. sebagai contoh tidak larut dalam ikut membagikan uang untuk kepentingan praktis, agar ia memilihnya.

Kemenangan tidak hanya diukur dari banyak nya prosentase perolehan suara. Melainkan kemenangan juga dilihat dari bagaimana ia berproses dalam menjalankan aktifitas politiknya. Kemenangan sejati adalah dimana ia menjalankan politiknya tanpa terkotori tangan-tangan yang melanggar aturan. Kemenangan sejati adalah dimana ia menjadi pilihan yang murni dari rakyat yang tak minta balas budi. Kemenangan sejati adalah dimana ia menjadi cahaya yang senantiasa menerangi dari gelapnya arus demokrasi. Kemenangan sejati adalah kemenangan yang bisa membawa berkah negeri ini, untuk bangkit kembali.
Wallahu 'a'lam bisshowaf.

Sabtu, 25 April 2009


SUAP : ANTARA REALITA DAN FATWA AGAMA

Suap yang dalam bahasa arabnya riswah merupakan sebuah problema umat Islam saat ini. Hampir di seluruh instansi-instansi pemerintah dan pendidikan ditemukan pekerjaan suap. Bukan itu saja, suap juga telah merambah pada even pemilu (pemilihan umum) kali ini.

Suap dan Realita
Problema suap telah menjamur di pelbagai Negara, sehingga tidak lagi menjadi hal yang tabu bagi masyarakat dunia. Hal ini terjadi dikarenakan dengan pelbagai sebab, ada yang melakukannya karena malas berurusan dan menunggu terlalu lama, dan ada pula yang berkembang dimasyarakat ketika ada pemilihan kepala desa hingga pemilihan presiden, masyarakat yang berfikiran pragmatis ”Siapa yang memberi saya uang banyak ia saya pilih”, tentu ini membuat sang calon pemimpin gencar melakukan suap agar mendapatkan dukungan yang signifikan. Jika realita ini terus berjalan maka hukum hanya tinggal sebagai 'pajangan' saja. Akankah budaya 'kotor' ini dibiarkan begitu saja? Bagaimana tanggapan para ulama terhadap budaya 'kotor' yang terus menggerogoti pikiran masyarakat, yang akhirnya diitakuti kini dianggap suatu hal yang sah-sah saja?


Suap dan Fatwa Agama
Islam sebagai agama yang selalu memperhatikan kesejahteraan umatnya tentu tidak akan tinggal diam dalam menanggapi budaya 'kotor' yang terus menjalar diberbagai bidang. Kalau diteliti suap yang dalam bahasa Arabnya riswah merupakan pebuatan yang zholim dengan memakan harta orang lain secara bathil yang jelas bukan miliknya. Sehingga para ulama sepakat bahwa suap merupakan pekerjaan yang diharamkan agama (syari'). Sebagaimana Firman Allah SWT. Dalam surah al-Baqarah ayat 188: ”Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetauhi”.
Dan sabda Rasulullah saw : ”pemberi suap dan penerima suap masuk dalam neraka”, Dalam hadits yang lain Rasulullah saw. bersabda: ”Allah swt. melaknat pemberi suap penerima suap dan perantara keduanya”.
Dalil ini jelas sekali menyatakan bahwa pemberi suap (râsyi), penerima uang suap (murtasyi) dan perantara keduanya (râisy) merupakan pekerjaan yang diharamkan oleh syari' (agama) dan Imam Mazhab yang empat sepakat akan pengharaman riswah (suap) tersebut. Adapun pemberian hadiah dari yang punya hak kepada petugas intansi dengan maksud tidak menyuap, tetapi untuk tercapainya hak yang diinginkannya dari sebuah intansi tersebut tergolong perbuatan yang diharamkan juga, karena ini tergolong suap (riswah) dalam bentuk majaz. Sebagiamana yang dijelaskan dalam kitab Tahqiq al-Qadiyah fi al-Fâriq baina al-Riswah wa al-Hadiyah karangan Allâmah Abd al-Ghani al-Nabilsi.
Dua masdar hukum Islam; al-Quran dan Sunnah telah mengharamkan secara jelas dan tegas akan praktek riswah (suap) tanpa ada pengecualian. Maka dalil-dalil tersebut tidak dapat dikecualikan dengan perkataaan fuqoha' (ulama Fiqh), bagaimanapun situasi dan kondisinya.
Hadits Rasul tersebut menunjukkan bahwa yang pertama kali dilaknat Allah sebelum penerima suap (murtasyi) adalah pemberi suap (râsyi). Hal ini membuktikan bahwa pertanggungjawaban yang terbesar terletak pada pemberi suap (râsyi), sekalipun dari segi mendapat laknat Allah sama. Karena itu tidak dapat mengecualikan pemberi suap (râsyi) dalam hal dosa.
Kemudhratan yang dijadikan alasan pembolehan terjadinya praktek riswah (suap) belum mencukupi syarat. Karena, sebagaimana yang disepakati Ijma' ulama bahwa kemudhratan yang membolehkan penggunaan yang haram, jika tidak melakukan hal tersebut dirinya akan berbahaya yang dapat mengakibatkan kematian atau hilang salah satu anggota tubuhnya, bukan dikarenakan kesempitan dan kesulitan waktu.
Kenapa dosa riswah (suap) tersebut hanya mengenai penerima suap (murtasyi) saja, kalau ditilik dari segi keuntungan lebih banyak didapat pembari suap (râsyi) dari penerima suap (Murtasyi). Maka akan timbul pertanyaan kenapa penerima suap (murtasyi) tidak mendapat hal yang sama?
Dr. abdul 'azim al-muth'ani; ustadz Dirosat al-'Ulya Jami'ah al-Azhar. Beliau berpendapat: "bahwa seorang yang terjepit untuk mendapatkan haknya dan dalam kondisi yang sangat mendesak sehingga mengharuskan melakukan riswah (suap), itu merupakan suatu rukhsoh (keringanan) baginya. Hal ini pun dapat dilakukan jika tidak ada cara lain dan penolong untuk mendapatkan haknya, sehingga pokok permasalahan tinggal pada murtasyi (penerima suap) saja, karena yang memiliki hak berada dalam dua kondisi; menyerahkan permasalahan ini kepada Allah (baca: tawakkal) dengan tidak melakukan riswah (suap)…dan ini lebih baik, atau melakukan riswah (suap) karena terpaksa dan pada hakekatnya sangat membenci pekerjaan riswah (suap) tersebut sehingga posisinya ketika itu sangat terjepit ('uzur) sekali, hal ini juga dibolehkan. Sebagaimana terjadi pada orang yang sangat kelaparan ditengah hutan sehingga mengharuskannya memakan daging babi untuk menolak yang hal yang membahayakan bagi dirinya, tetapi ketika lapar itu telah hilang maka tidak boleh baginya meneruskan makanan tersebut hingga kenyang".Sekarang tinggal kita memikirkan apakah riswah (suap) yang dilakukan ketika ditilang polisi ditengah jalan termasuk yang memudhratkan atau tidak? Atau ketika diantara kita banyak pilihan dalam pemilu (pemilihan legislatif, pemilihan presiden hingga pemilihan kepala desa) terus kita memilih calon yang memberi uang banyak padahal ahklaknya bejat bahkan kafir?. Mari…Tanya nurani kita masing-masing
IBNU ISMAIL AL-JAZARY
(Bapak Teknologi Dunia)

Al-Jazary adalah seorang tokoh besar di bidang mekanik dan industri. Lahir di Al-Jazira yang terletak di antara sisi utara Irak dan timur laut Syiria, tepatnya antara sungai Tigris dan Efrat.
Ibnu Ismail Ibnu Al-Razzaz Al-Jaziry mendapat julukan sebagai bapak modern Engineering berkat temuan-temuannya yang banyak mempengaruhi rancangan mesin-mesin modern saat ini, diantaranya sistem combustion engine, crankshaft, suction pimp, programable automaton dan banyak lagi.
Donald Routledge Hill dalam bukunya Studies in Medieval Islamic Technology mengatakan bahwa hingga zaman modern ini, tidak satupun tulisan dari suatu kebudayaan yang dapat menandingi lengkapnya instruksi untuk merancang, memproduksi dan menyusun berbagai mesin sebagaimana yang disusun oleh Al-Jaziry. Beliau mendokumentasikan lebih dari 50 karya temuannya, lengkap dengan rincian gambar-gambarnya dalam buku, ”Al-Jami’ Bain Al-Ilmi wal Amal An-Nafi’ fi Sinat’at Al-Hiyal” (The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devieces).
Pada tahun 1206, Al-Jaziry membuat Jam Gajah yang bekerja dengan tenaga air dan berat benda untuk menggerakkan secara otomatis sistem mekanis yang dalam interval tertentu akan memberikan suara simbal dan burung berkicau. Prinsip humanoid automaton inilah yang mengilhami pengembangan robot pada masa sekarang. Kini replika Jam Gajah tersebut disusun kembali oleh London Science Museum sebagai bentuk penghargaan atas karya besarnya. (*dari berbagai sumber)

Rabu, 11 Maret 2009

Hikmah Hijrah Rosulullah

Bissmillahirrahmanirrahiim.
Ikhwatal iman, Tidak terasa tahun baru 1431 H akan segera tiba. Setahun sudah kita bergelut dengan waktu, di tahun 1430 H. Waktu laksana air yang mengalir ke hilir yang tak pernah lagi kembali ke hulu. Kadang ia membangkitkan gairah dan semangat, kadang ia melenakan kita. Kadang kita tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya. Oleh karenanya kita harus menghargai setiap kesempatan yang ditawarkan sang waktu, sebelum ditarik dari kita, karena kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya. Peribahasa Arab mengatakan “ Waktu laksana pedang, jika tidak mampu memanfaatkan waktu, maka kamu akan terhunus olehnya “. Tahun Hijriah, ditetapkan pertama kali oleh Kholifah Umar bin Khotob ra, sebagai jawaban atas surat Wali Abu Musa Al-As’ari. Kholifah Umar menetapkan Tahun Hijriah untuk menggantikan penanggalan yang digunakan bangsa Arab sebelumnya, seperti Kalender Tahun Gajah, Kalender Persia, kalender Romawi, dan kalender-kalender lain yang berasal dari tahun peristiwa-peristiwa besar Jahiliyah. Kholifah Umar memilih peristiwa Hijrah sebagai taqwim Islam, karena Hijrah Rosululllah saw dan para sahabat dari Makkah ke Madinah merupakan persitiwa paling monumental dalam perkembangan dakwah. Professor Fazlu Rahman menyebut Hijrah sebagai marks of the beginning of Islamic calendar and the founding of Islamic community. Oleh karenanya, penting mengambil hikmah dan pelajaran dari peristiwa Hijrah, baik individu, masyarakat ataupun negara

INDIVIDU
1. Meluruskan Niat
“Al-Muhajaroh” (Hijrah) sebagaimana dikatakan oleh Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah keluar dari negeri kafir kepada negeri iman, sebagaimana para sahabat yang berhijrah dari Makkah ke Madinah. Dan Hijrah di jalan Allah itu, sebagaimana dikatakan oleh Muhammad Rasyid Ridho, harus dengan sebenar-benarnya. Artinya orang yang berhijrah dari negerinya adalah untuk mendapatkan ridho Allah dengan menegakkan agama-Nya yang merupakan kewajiban baginya, dan merupakan sesuatu yang dicintai AllahDalam sejarah, ada seorang sahabat yang berhijrah karena ingin menikahi ummu Qois, bukan karena niat ikhlas taat kepada Allah dan Rosulnya. Maka Rosulullah saw bersabda :“Bahwasannya semua amal itu tergantung niatnya, dan bahwasannya apa yang diperoleh seseorang adalah sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa yang hijrah karena Allah dan Rosulnya maka hijrahnya itu akan diterima oleh Allah dan Rosulnya, dan barang siapa yang hijrahnya, karena mencari dunia atau karena wanita yang akan nikahinya maka hijrahnya itu hanya memperoleh apa yang diniatkannya dalam hijrahnya itu. (HR Bukhori dan Muslim)Hikmah yang harus kita ambil adalah bahwa segala aktifitas ibadah dan dakwah kita hanya semata-mata karena Allah, bukan karena yang lain, misalnya untuk mengisi waktu luang, atau sekedar nambah ilmu dan wawasan. Sehingga kita akan bersungguh-sungguh dalam ibadah dan dakwah ini.
2. Ketaatan adalah Kewajiban, Bukan Pilihan
Allah swt berfirman :Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : Dalam keadaan bagaimana kamu ini? Mereka menjawab, Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah). Para Malaikat berkata : Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu? Orang-orang itu tempatnya neraka jahannam, dan jahanam itu seburuk-buruknya tempat kembali (Annisa 97).Ayat diatas turun sehubungan dengan kasus lima orang pemuda muslim yang bergabung dengan kafir Makkah, lalu mati mengenaskan di perang badar oleh pasukan kaum muslimin. Tempat mereka adalah neraka jahannam sebagaimana firman Allah di atas. Persoalan ini berkaitan dengan sikap mereka yang tidak mau berhijrah bersama Rosulullah dari Makkah ke Madinah. Mereka tidak mau mengerti akan makna hijrah sebagaimana yang dilaksanakan Rosulullah dan para sahabatnya yang setia dan taat. Mereka mengira bisa melakukan siasat dan strategi sendiri dengan cara menyembunyikan keislamannya dengan tetap bergabung bersama-sama kafir Qurasy. Padahal Allah dan rosulNya telah memerintahkan hijrah. Maknanya adalah ketaatan terhadap Allah dan rosulNya, adalah kewajiban yang harus dijalankan, bukan suatu pilihan.
3. Yakin dengan Pertolongan Allah swt.
Hijrah adalah rancangan dan strategi untuk melanjutkan perjuangan Dakwah Islam. Allah swt berfirman “Dan orang-orang yang beriman, berpindah dan berjuang di jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat perlindungan (kepada orang-orang yang berhijrah) dan memberikan pertolongan, itulah orang-orang yang sebenarnya beriman. Mereka beroleh ampunan dan rezeki yang berharga (Al-Anfal 74).Perjuangan yang dilalui Rosulullah dan para sahabat di Makkah tidaklah mulus dan ringan, tetapi jalan itu penuh onak dan duri, dan sangat berat sekali. Beliau dan kaum mukminin menerima berbagai cobaan, cercaan, teror, penyiksaan, propapaganda dan pembunuhan. Hal ini tidak hanya menimpa diri rosulullah, tetapi juga para sahabatnya. Kita tahu, kisah Bilal, keluarga Yasir (Yasir, Sumayah, Ammar bin Yasir), Abu Fakihah (budak Bani Abdid-Dar), Khabab bin Al-Art (budak Ummu Umar), dll. Daftar orang-orang yang disiksa karena mempertahankan agama Allah masih panjang. Bahkan Rosulullah dan para sahabat diboikot ekonomi selama tiga tahun, sehingga kekurangan pangan, kelaparan dan timbulnya penyakit. Bahkan diantara mereka ada yang menjadi syahidah sebelum peristiwa hijrah Nabi. Oleh karenanya Hijrah adalah salah satu pertolongan Allah untuk mengembangkan dakwah, setelah berjuang dengan sekuat tenaga, dengan sepenuh jiwa dan segenap hartanya
4. Kecintaan Terhadap Rosulullah
Peristiwa hijrah memberikan tauladan bagi kita, betapa para sahabat lebih mencintai rosulullah dibandingkan dengan dirinya sendiri. Ali bin Abi Tholib, menggantikan tempat tidur rosulullah ketika malam itu beliau berangkat Hijrah dan kita tahu konsekuensi apa yang akan ditanggung oleh sahabat Ali ra.. Sedangkan Abu Bakar, menyertai rosulullah dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah. Al Bukhori meriwayatkan dari Anas, dari Abu Bakar, dia berkata : “Aku bersama Nabi saw di dalam gua. Kudongakkan kepala, dan kulihat kaki beberapa orang. Aku berkata, ‘Wahai Nabi Allah, andaikata mereka melongokkan pandangannya, tentu mereka akan melihat kita. Nabi saw berkata “ apa pikiranmu wahai Abu Bakar tentang dua orang, sedang yang ketiga adalah Allah”. Kekhawatiran Abu Bakar bukan sekedar tertuju pada nasib dirinya, tetapi yang paling pokok adalah kekhawatiran terhadap nasib Rosulullah.Dalam hal ini dia berkata “Jika aku terbunuh, maka aku hanyalah seorang manusia, namun jika engkau yang terbunuh, maka umat tentu akan binasa. (Siratir-Rosul, SyaikhAbdullah Annajdy).
BAGI MASYARAKAT DAN NEGARA
1. Mengoptimalkan peran Masjid
Langkah pertama yang dilakukan rosulullah adalah membangun masjid. Masjid yang dibangun bukan sekedar sebagai tempat sholat semata, tetapi juga sebagai madrasah tempat transfer ilmu dan bimbingan, sebagai balai pertemuan, tempat memepersatukan berbagai kabilah, sebagai tempat mengatur segala urusan, dan sekaligus sebagai gedung parlemen untuk bermusyawarah dan menjalankan roda pemerintahan.
2. Persaudaraan dan Persatuan
Berkenaan dengan peristiwa hijrah, rosulullah juga berhasil mempersatukan suku Aus dan Suku Kahraj yang sebelumnya saling bermusuhan. Mereka dipersatukan dengan dasar aqidah islam. Rosulullah juga mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshor. Persaudaraan ini semata-mata berdasarkan aqidah yang sama. Langkah ini untuk menegaskan, bahwa ikatan persatuan dan persaudaraan kaum muslimin haruslah berdasarkan aqidah, bukan berdasarkan kesukuan, kedaerahan, kemaslahatan, kebangsaan dan sebagainya yang bermuara pada ikatan kejahiliyahan.Makna persaudaraan ini menurut Muahmmad Al-Ghazaly, agar fanatisme Jahiliyah menjadi cair dan tidak ada sesuatu yang dibela kecuali Islam. Disamping itu, agar perbedaan-perbedaan keturunan, warna kulit dan daerah tidak mendominasi, agar seseorang tidak merasa lebih unggul dan merasa lebih rendah kecuali karena ketaqwaanya.Rosulullah saw menjadikan persaudaraan ini sebagai ikatan yang benar-benar harus dilaksanakan, bukan sekedar ucapan semata, lalu setelah itu hilang tak berbekas. Al-Bukhory meriwayatkan bahwa tatkala Muhajirin tiba di Madinah, maka Rosulullah saw mempersaudarakan antara Abdurrahman bin ‘Auf dengan Sa’d bin Ar-Rabi’.Sa’d berkata kepada Abdurrahman : ”Sesungguhnya aku adalah orang yang paling banyak hartanya dikalangan Anshor. Ambillah separoh hartaku itu menjadi dua. Aku juga mempunyai dua istri. Maka lihatlah mana yang engkau pilih, agar aku bisa menceraikannya. Jika masa iddahnya habis, maka kawinilah ia”. Itulah gambaran indah, dari persaudaraan mereka. Ini menunjukkan kaum Anshor yang rela berkorban, mencintai, dan menyayangi saudaranya. Maka kaum Muhajirin tidak menerima dari saudaranya Anshor, kecuali sekedar makanan yang bisa menegakkan tulang punggungnya.
3. Masyarakat Jahiliyah Menjadi Masyarakat Islam.
Awal Rosulullah di Yastrib, Rosulullah memulai aktifitas membangun pilar-pilar masyarakat berdasarkan Islam. Pranata, tradisi, dan aturan-aturan yang berlaku di masyarakat semua harus berdasarkan Islam. Sistem jahiliyah (sistem di luar islam) diganti, sehingga menjadi masyarakat Islam. Realitas kondisi masyarakat sekarang adalah sama dengan masyarakat jahiliyah. Semua aturan, pranata, tradisi dan perilaku tidak berdasarkan Islam. Oleh karena itu masyarakat sekarang perlu “berhijrah” untuk membuang jauh sistem jahiliyah menjadi sistem islam.
4. Tonggak berdirinya Negara Islam
Rosulullah segera menyusun Piagam Madinah sebagai konstitusi negara berlandaskan aqidah Islam, dan menjadikan hukum-hukum Allah sebagai hukum yang berlaku bagi masyarakat. Piagam ini diawali dengan kalimat “Bismillahirrahmaanirrahiim” yang mencerminkan piagam ini dibuat dalam konteks ketaqwaan kepada Allah swt. Dan pasal terakhir dari piagam ini berbunyi “Perkara apapun yang kalian perselisihkan, harus dikembalikan kepada Allah swt dan Muhammmad saw. Maka dengan hijrah Rosulullah dan para sahabatnya ke Madinah, dengan ditetapkannya Piagam Madinah, dengan diterapkannya hukum Islam dan Rosulullah saw sebagai pemimpin, maka peristiwa hijrah adalah awal ditegakkannya Negara Islam. Oleh karena itu kita harus yaqin dengan tegaknya kembali Kekuasaan Islam, sebagaimana firman Allah swtDan Allah telah berjanji kepada orang -orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal sholeh diantara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan orang-orang mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Sungguh-sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoiNya untuk mereka; dan sungguh-sungguh akan menukar keadaan mereka, sesudah mereka dalam ketakutan, menjadi aman sentosa (QS Annur, 55)
5. Tonggak Kebangkitan Dakwah
Setelah hijrah Rosulullah dari Makkah ke Madinah, perkembangan dakwah Islam begitu pesat. Sebagai gambaran, periode Makkah ibarat menarik tali busur ke belakang sebagai ancang-ancang , sedangkan periode Madinah bagaikan anak panah lepas dari tali busurnya. Dakwah Islam menyebar ke segala penjuru dan mereka berbondong-bondong masuk Islam dari berbagai wilayah. Inilah wujud dari janji Allah. Pada perkembangan selanjutnya Islam meliputi seluruh Jazirah Arab, termasuk Syam dan Yaman. Islam juga menyebar sampai Persia dan Romawi. Islam juga sampai Afrika dan Eropa, dan terakhir kekuasaan Islam menguasai dua pertiga wilayah dunia. Sungguh suatu pencapaian yang sangat menakjubkan
Ikhwatal iman, Peristiwa hijrah Rosulullah memang telah berlalu selama 1430 tahun. Tetapi makna dan spirit hijrah harus tetap tertanam dalam hati dan jiwa kaum muslimin. Kaum muslimin harus ”berhijrah” dengan meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah menuju kepada ketaatan kepada Allah swt, sebagaimana sabda Rosulullah saw:”Orang yang berhijrah adalah yang (meninggalkan) apa-apa yang dilarang oleh Allah swt. (HR Bukhori)Tahun Baru Hijriah segera menjelang, akankah berlalu begitu saja?
Wallohu a’lam bi ashshowab.

Senin, 02 Februari 2009

Pesta Demokrasi, Rakyat Dan Pesta Kejahiliyaan

Assalamu'alaikum. Wr. Wb.

Tinggal menunggu hitungan hari saja penduduk negri yang tercinta bernama indonesia ini akan meramaikan hajatan besar yang luar biasa, yang hajkatan seperti ini hanya akan dilakasanakan 5 tahun sekali.
Ya, lima tahun sekali masayarakat di suguuhkan dengan hajatan pemilu untuk memilih wakilnya di parlemen dan kemudian memilih pemimpin utnuk negri terbesar ke lima dan terbesar penduduknya adalah muslim.
Saya mengatakan bahwa pesta ini bukan hanya pesta demokrasi tapi juga pesta kejahiliaan, karena !!! Negri yang berpenduduk muslim trerbesar didunia ini disuguhi dengan praktek-praktek money politik karena adanya keputusan MK terkait suara terbanyak.
Beberapa hari ini saya sering berdialog dengan masyarakat dibeberapa desa di gresik, disela-sela waktu kosong ketika saya menyampaikan amanah dari Allah dan RosulNya dalam forum pengajian. Kebanaykan dari mereka mengaku bingun dan bimbang dengan ajakan caleg-caleg dari beberapa partai yang memb erikan penawaran dan janji berupa uang dan barang/sembako, mereka diajak untuk memilih dengan imbalan. Ini yang biasa saya sebut dengan Money politik, karena memberikan sumbangan hanya ketika mendekati Pemilu sedangkan jauh-jauh hari tidak perna atau bahkan kunjung kesitupun tidak, ini merupakan politik Hit and run (tabrak lari) setelah mereka menabrak dengan unag atau sembako kemudian ditinggalkan begitu saja "rakyat diumpamakan mendorong mobil mogok.

Perlu di ketahui bahwa, money politic Dalam islam prinsip utama adalah Dzolim:
dzolim dan mendzolimi itu tidak boleh, maka bila ada orang menyuruh orang untuk dzolim dengan disuruh orang lain apa itu dengan uang atau imbalan maka yang disuruh itu sama seperti yang orang yang menyuruh. Uang sogokan atau Roswah sebagaimana hadits rasulullah la’natullah ala ro’sy wal multasi laknat allah bagi yang menyogok maupun yang disogok karena ada yang dirugikan dalam masalah ini. dalam hal politik maka yang memilih karena dibayar maka dia telah mengorbankan hati dan nurani, dan apa yang diyakini apakah kejujuran, kebaikan dari calonnya dan ini mendzolimi calonnya. Jika kita memilih orang yang telah melakukan kecurangan maka ia sama dengan melanggengkan sesuatu yang salah atau negatif.
Bagi yang punya nurani haram baginya menerima sogokan yang mengorbankan hati nurani karena bagian dari mengkhianati ummat karena harus memilih paksa pemimpin yang dzolim.

Kiranya tulisan yang sedikit ini bisa bermanfaat untuk kita, dan kita mau menyampaikan ke masyarakat yang lebih luas sehingga kedepan negri kita indonesia umumnya dan gresik ini pada khususnya bisa Sejahtera karena keadilan yang ditegakkan oleh para pemimpinya.
Bangkitlah Gresikku Harapan itu masih ada!!!