Jumat, 04 Mei 2012

Masalah, Tidak Akan Menjadi Masalah, Jika Tidak Dipermasalahkan

Anda masih ingat dengan Amrozi cs?
Tersirat senyum di bibirnya ketika palu itu diketuk jua. Beberapa detik kemudian bahkan ia bangkit dan dengan pasti kepalan tangan itu mengangkasa diiringi gema takbir dari lantang suaranya. “Allahuakbar...” Seisi ruang sidang dibuat takjub oleh mereka. Sorot mata yang tajam itu jua bahkan kemudian menyaksikan sendiri kematian tubuhnya. Sebuah peluru akhirnya mengantarkan ia dan dua rekannya menghadap kharibaan-Nya. Ada sebuah hikmah manfaat yang bisa dipetik dari kisah perjalanannya. Ini tentang prinsif. Ini juga cerita tentang integritas. Keberanian menyatakan keyakinan. Dan yang paling penting adalah sebuah sikap ketika menghadapi permasalahan. Sebuah ungkapan bijak disampaikan seorang kawan dalam sela kesempatan tausiyahnya, “Kawan, masalah itu tidak akan menjadi masalah, jika tidak kita permasalahkan.” Persis. Bahkan di sela – sela penantian menunggu eksekusi penentuan keputusan manusia itu, ia dan kedua rekannya tetap menebar senyum yang menyiratkan sebuah ketegaran. “Ini bukan sebuah masalah, bung.” Seakan kalimat tersebut terluncur dari sikapnya yang semakin membuat penasaran. 
Kisah lain (Sayyid Quthb) jua kita dapati di Mesir beberapa puluh tahun silam. Lelaki itu, dengan senyum yang manis itu menunggu detik - detik algojo menggantungnya. Itulah senyum kedua seumur hidupnya yang juga menjadi senyum terakhir menutup usia. Ketegaran akan kerinduan perjumpaan meyakinkannya. Sosok kecil itu kemudian menjadi sebuah spirit. Kenapa harus bersedih atas berbagai permasalahan? Mereka hanyalah sebuah mozaik. Sebuah serpihan dari sebagian kisah cerita dunia. Dunia yang terdiri dari serpihan problematika. Disitulah sebenarnya sebuah pendewasaan. Jika manusia bisa mengambil pelajaran darinya. Perspektif bedanya hanya terletak di sudut pandang saja. Memandang sebagai apakah seorang individu terhadap sebuah masalah, ancaman atau anugerah.
 
“Bersungguh – sungguhlah dengan kehinaanmu, niscaya Ia menolongmu dengan kemuliaan-Nya. Bersungguh – sungguhlah dengan ketidakberdayaanmu, niscaya Ia menolongmu dengan kekuasaan-Nya. Bersungguh – sungguhlah dengan kelemahanmu niscaya Ia menolongmu dengan kekuatan-Nya.” 

Banyak dari kita memandang sebuah masalah yang menimpa adalah sebagai sebuah musibah. Terlebih ketika beban tersebut terasa betapa berat dan kerasnya. Seolah tak sanggup lagi kita menanggungnya. Padahal sudah kita tahu, DiaYang Maha Esa tidak sekali – kali membebani sesuatu yang tidak sanggup kita pikul. Lantas, apa yang kita permasalahkan...? Cara kita memandang masalah itu sendiri, sebenarnya itulah masalahnya. Seberapa kuat doktrin kebaikan mampu mengalahkan bujuk buruk sangka dalam mindset pemikiran kita. Terkadang, memang terasa sangat berat ujian ini, lunglai sudah tubuh ringkih ini. Rasanya tak sanggup jua berdiri menopang beban berat ini. Namun, sekali lagi disinilah titik ujian kita. Benar, manusia diuji dari titik lemahnya masing – masing. Apapun itu, saudaraku. Inilah ujian iman itu. Seorang Imam Hasan Al Basri pernah mengatakan,

“Ketika badan sehat dan hati senang, semua orang mengaku beriman. Tetapi setelah datang cobaan barulah diketahui benar tidaknya pengakuan itu. Orang yang ingin permintaannya cepat terkabul hari ini dan tidak sabar menunggu, itulah orang yang lemah iman.” 

Inilah hidup punya cerita, saudaraku. Terlalu banyak  cerita problematika dunia bila ingin kita jabar. Namun bukan itu esensi hidup kita. Bukankah kita dicipta untuk menggapai ridho-Nya? Bukankah masalah ini jualah yang akan mengakselerasi kita membuktikan kecintaan yang sebenarnya pada-Nya? Bukankah dengan ini jiwa kita akan lebih berpengalaman dalam menghadapi detak demi detak masalah yang melintang aral? Bukankah ini adalah sebuah nikmat, kalau begitu? Lantas, apa yang kita permasalahkan? Inilah kekuatan iman itu, kawan. Tanpanya ibadah – ibadah kita selama ini seolah hampa. Kering, tanpa jiwa. Tanpa ruh di dalamnya. Yakin. Yakinlah Dia selalu bersama kita. 

“Sesungguhnya Allah bersama orang – orang yang sabar...” 

Jangan permalukan jiwa dengan menyerah pada titik perjalanan hidup ini. Ini hanya sebuah stasiun pemberhentian sementara. Isilah kemudian amunisi lagi, kita lanjutkan perjalanan yang masih panjang ini. Yakinlah akan pertolongannya. Memang, sepertinya tak semua yang kita minta terkabulkan, tapi taukah kita, sungguh sebenarnya apa yang kita butuhkan telah terpenuhi jua. “La Tahzan, Innallaha ma’ana” Demikian seorang sahabat mencoba menenangkan saudara yang dicintainya ketika sedang gelisah akan petolongan-Nya. Tidak. itu bukan sebuah keraguan. Namun sebuah pengharapan, akan pertolongan Sang Penciptanya. 
“Tampilkan dengan sesungguhnya sifat – sifat kekuranganmu, niscaya Allah menolongmu dengan sifat – sifat kesempurnaan-Nya. Bersungguh – sungguhlah dengan kehinaanmu, niscaya Ia menolongmu dengan kemuliaan-Nya. Bersungguh – sungguhlah dengan ketidakberdayaanmu, niscaya Ia menolongmu dengan kekuasaan-Nya. Bersungguh – sungguhlah dengan kelemahanmu niscaya Ia menolongmu dengan kekuatan-Nya.” (Ibnu Athaillah) Itulah kunci dari permasalahan kita. Pertolongan itu adalah sebuah keniscayaan. “Adalah hak bagi Kami menolong orang – orang beriman.” (Q.S. Ar Ruum:47) Tidak ada kegelisahan, selama masih tersemat iman itu dalam lubuk jiwa. Masalah, tidak akan menjadi masalah, jika tidak dipermasalahkan...”

Senin, 30 April 2012

Mengkalkulasi "Satu" Rahmat Allah

Rahmat per-definisi orang miskin adalah kekayaan. Rahmat bagi orang tertindas adalah kebebasan. Rahmat bagi penguasa adalah langgeng kekuasaan. Rahmat bagi pedagang adalah laris daganganya. Rahmat bagi staf biasa adalah diangkat ke dalam jabatan. Rahmat bagi petani adalah panen melimpah ruah. Dengan arti kata Rahmat adalah mendapatkan sesuatu yang belum dalam genggaman.
Lalu… yang sudah dalam genggaman ?, yang setiap hari dinikmati ?. Apakah itu bukan ramhat ?. Mari kita uji : Silahkan tahan nafas, hitung mulai dari 1 interval 1 detik saja. Berapa hitungan kita mampu bertahan ?. Mungkin langka manusianya yang sampai pada hitungan 60 (1 menit)
Menurut ilmu kesehatan, satu kali pernafasan menghirup udara (kapasitas paru-paru) adalah 0,5 liter dengan kandungan oksigennya 20 % dan rata-rata frekuensi pernafasan 15-18 kali per menit. Kita ambil angka terbawah 15 kali. Denga asumsi harga oksigen di rumah sakit Rp.1000,- perliter, mari kita kalkulasi harga bahan mentahnya.
  • Satu kali pernafasan (0,5 liter) menghirup 0,1 liter oksigen, berarti dalam 1 menit = 1,5 liter.
  • Dalam 1 jam menghirup oksigen : 60 menit x 1,5 liter = 90 liter
  • Dalam 1 hari menghirup oksigen 24 jam x 90 liter = 2.160 liter
  • Dalam 1 tahun menghirup oksigen 365 hari x 2.160 liter = 788.400 liter
  • Jika umur saya saat ini adalah 45 tahun berarti telah menghabiskan oksegen sebanyak 27 tahun x 788.400 liter = 21.286.800 liter
  • Nilai rupiahnya 21.286.800 liter x Rp. 1000 = 21.286.800.000,-
  • Angka yang fantastis 21 MILYAR rupiah

21 milyar lebih sudah saya menghabiskan uang jika saya beli sendiri oksigen untuk pernafasan saya. Itupun harus ditambah dengan biaya transportasi pergi membeli, beli tabung, maintenance peralatan sedot dan segala macam. Belum lagi kalo oksigen menghilang dari pasaran seperti pupuk untuk petani sekarang. Saya mau cari kemana ?. Enam puluh detik saja menahan saya tak mampu. Kalau saya ke kantor harus menenteng tabung oksigen. Kalau saya tidurpun harus bersama tabung. Ke kamar mandipun harus mandi sambil selang oksigen di hidung, kalau tidak begitu saya bisa terkapar di kamar mandi kehabisan oksigen
Selama ini, saya menghirupnya dengan gratis. Allah sebarkan oksigen dimana-mana untuk saya hirup. Dalam tidurpun saya, DIA siapkan oksigen dalam selimut saya. Kemanapun saya pergi disana sudah tersedia oksigen. Saya hirup sesuka hati saya, tanpa saya fikirkan siapa yang punya.
Jika uang 21 Miyar ditagih kepada saya sekarang ?. Jangankan sebayak itu, satu persennya saja uang saya tidak cukup untuk membayarnya. Apakah sudah terfikirkan oleh saya untuk membayar hutang itu ?. Yang saya fikirkan sekarang bagaimana cicilan kredit Bank saya, yang kalau saya tidak angsur, barang saya akan disita.
Itu baru oksigen, bagaimana dengan mata ?. berapa nilai pemandangan yang saya lihat untuk kehidupan saya. Coba saja kalkulasi dengan biaya 1 kali nonton bioskop untk seumur hidup. Tangan ?, kaki ?, telinga ?. Lebih dari itu nikmat kesehatan ?, kalkulasikan dengan biaya rumah sakit, berapa rupiah harus kita keluarkan semalam di ruang bangsal saja. Secanggih apapun kalkulator kita tidak akan mampu lagi menampung digit hutang kita pada Allah. Bukankah itu RahmatNya ?
Mintak dibayarkah DIA ?. Pernahkah collectornya menggedor pintu rumah kita dengan ancaman akan menyita barang kita jika tidak dibayar ? seperti layaknya kita kredit cicilan sesuatu barang.
Dia hanya minta :
La inzakartum la azidannakum wa la in kafartum inna ‘azaabi la syadiid
Memuji namanya saja kita masih malas, memuji sang pacar, atasan, dan jabatan kadang tak kenal waktu. Nauzubillahi tsumma nauzubila. Untuk bersedekah masih menggerutu dalam hati, … enak aja nikmati hasil pencarian saya. Kalo mau uang, usaha dong ! (dalam hati)

Kamis, 26 April 2012

Mencari Pegangan..


Jika Anda mencari Pegangan... 
Jangan Barang yang penuh Ketegangan 
Jangan Pikiran sepatuh Kuda Tunggangan 
Jangan Kebatinan di kamar Tenar Perpanggungan

Pegangan itu ditaruh di tanah merata 
Mulus lurus tanpa kelok-kelok Dusta 
Bertangkai Elok Permata Welas Cinta 
Berbilah tajam Baja Inteligensi Nyata

Pegangan begini berisi Tuah Ikhlas
Disimpan di Hati sebening Gelas :
Yang Menerima-Mensyukuri Hidup ini
Dengan Kekurangan-Kelebihan begini
Tak meratapi tak Menyesali Diri
Buku Hidup ini memang dipilih sendiri
Nilainya pasti ada dan Luhur

Cobalah Cicipi Tuah Ikhlas waktu Sahur
Yang Berbagi dengan Tangan Kanan-Kiri
Yang Tahu hanya yang Gaib di samping Diri
Yang Berdoa bagi mereka yang tak mau Peduli
Yang Berdoa bagi Lawan-Pembenci-Mendzalimi
Yang Melepas Pasung-Sanjung yang membelenggu Kami

Jika Anda mencari Pegangan...
Carilah di Bukit Ikhlas-Welas Perenungan
Itulah sebaik-baik Tempat Berlindung Sekeluarga
Dengan Bersyukur-Berbagi jadi Titian Tangga

Rabu, 25 April 2012

Kita dan Hidayah Allah


Kupahami Perjalanan Matahari-Mu
Kupahami segala lupa, dan sejarah yang kutulis tanpa kesungguhan.
Ingin kumulai hari-hari Bernash, kupertaruhkan langkah.
Dan segera kupahami, betapa berharganya kemilau embun yang memantulkan gema adzan pada permulaan pagi, setiap tanggal,
setiap kebangkitan dari kematian kecil.
Dan aku menghadap-Mu membayar khilaf masa lalu…

Transendental, Menurut Kamus bahasa Besar Indonesia adalah :
(1) menonjolkan hal-hal yg bersifat kerohanian;
(2) sukar dipahami;
(3) gaib;
(4) abstrak

Berasal dari kata dasar Transenden, yang berarti (1) di luar segala kesanggupan manusia; luar biasa; (2) utama.
Catatan Kali ini, bukan tentang Idealisme Transendentalnya Immanuel Kant atau Bilangan Transenden dalam Istilah Kalkulus .  Namun tentang  satu kejadian dalam perjalanan hidup, yang mungkin dialami saya, anda atau orang-orang disekeliling kita, dan menjadikan “Habis gelap Terbitlah Terang”, salah satunya tentang Umar Bin Khatab Ra. yang pertama kali saya baca ketika SMP, dalam buku 30 kisah teladan. Juga beberapa kisah lainnya…

Pada masa Jahiliyah, Ia pernah Mengubur hidup-hidup anak perempuannya, mengikuti tradisi kaum Arab Jahiliyah. Pada awal Nabi Muhammad menyebarkan Islam pun, ia termasuk salah seorang yang menentangnya. Dan pada suatu hari ketika ia bermaksud membunuh Rasulullah, ia memperoleh kabar bahwa saudari kandungnya telah memeluk agama islam,  dan ketika didatangi, saudaranya yang sedang membaca Al Qur’an (surat Thoha), kemarahannya ia lampiaskan dengan memukul saudaranya tersebut hingga berdarah, namun ia menjadi iba dan memintanya agar dapat melihat bacaan tersebut. Dan Subhanallah, Ia begitu terguncang dengan kandungan Al Qur’an tersebut, hingga akhirnya ia memeluk islam pada hari itu juga. Ia akhirnya menjadi salah seorang Shahabat Rasul, dan salah satu diantara 10 Shahabat rasul yang telah di jamin masuk Surga, Subhanallah. Ia pun menjadi salah seorang Khulafur Rasyidin, Menggantikan Khalifah Abu Bakar Ash Shidiq. Di masa Kekhalifannya lah, Islam berkembang dengan pesat, bahkan kerajaan Romawi dan Persia ditaklukkan dalam waktu satu tahun.

Kisah Lainnya adalah sepupu Rasulullah, Abu Sufyan Bin Harits, yang bersama putranya Jafar, mendatangi rasulullah untuk memeluk agama Islam, setelah selama 20 tahun memerangi Rasulullah. Keraguannya dengan Agama Nenek Moyang sebetulnya sudah mulai ada saat Perang Badar, pada waktu itu ia melihat kejadian yang mengherankan dirinya, ketika melihat pasukan berpakaian serba putih turun dari langit membantu pasukan Kaum Muslimin. Ia menjadi salah satu Shahabat dekan Rasul, dimana pada saat Perang Hunain, ia termasuk dari delapan orang yang tidak beranjak pergi meninggalkan Rasul ketika Pasukan Muslim tercerai berai, dan tetap memegangi Tali Kekang Kuda Rasul, dengan Harapan Ia bertekad melakukan Jihad Fi Sabilillah.

Ibrahim Bin Adham, salah seorang Sufi ternama. Latar Belakangnya adalah seorang Raja, yang bergelimang harta dan kemewahan. Suatu malam Ia berdialog dengan suara yang didengar dari atap, dan kalimat “Tuan yang Gila, karena mencari Allah di dalam Istana,” membuatnya tersentak dan menjadi gelisah, hingga akhirnya ia memiliki keyakinan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, dan menjadi Ulama yang terkenal Zuhud dan Tawadu.

Momen Transendental, adalah sebuah Hidayah dari Allah, yang datangnya tidak setiap waktu dalam hidup kita. Saya sendiri pernah mengalaminya karena akibat salah pergaulan, hal – hal yang dibenci dan dimurkai oleh Allah senantiasa saya kerjakan, berkelahi & tawuran adalah kesenangan. Rokok, miras, bahkan sampai ganja dan obat terlarang adalah konsumsi hampir setiap hari. Dan kemudian Allah memberikan moment transendental sehingga saya mampu menjauhi semua kemaksiatan – kemaksiatan yang sudah menjadi kebiasaan jahiliyah. Tentu itu semua patut disyukuri dengan berpegang teguh pada tali Agama Allah dan berjuang dijalanNya.kalau dulu dijalan yang salah selalu berani dan tidak ada rasa takut, maka kenapa sekarang berada dijalan yang insya Allah benar harus takut! Seperti halnya Umar Ibnul Khotob.

Saudara sekalian perjalanan kita di Bumi Allah ini hanyalah sementara, bagi Hamba-hambaNya yang Sholeh, tentu menjaga keimanan dan tetap Istiqomah dijalanNYA, adalah sebuah keharusan, dan tidak sedikit pula HambaNya yang masih jauh dari perjalanan kepadaNya, yang bisa saja suatu waktu Allah akan memberikan HidayahNya. Namun tentu saja kita harus pandai-pandai menyikapi Sinyal yang Allah berikan melalui hidayahNya tersebut.

Karena waktu terus bergulir, dia takkan pernah menunggu kita, dan kita akan terus menjadi tua ketika berbuat dosa, namunkita akan tetap muda untuk melakukan tobat kepadaNYA. Jika Momen itu datang kepada kita, maka pikirkanlah bahwa itu adalah kesempatan terakhir bagi kita, mungkin, kita tidak akan pernah menemuinya lagi. Dan Allah adalah Maha Penerima tobat untuk para HambaNYA.
Apakah kita pernah mengalami kejadian yang membuat kita semakin “Klik” dengan Allah ? tentunya jawabannya kita harus introspeksi diri, dan simpan dalam hati masing-masing. Yang terutama, adalah kesadaran kita dalam Mengingat Allah dan Mengingat Kehidupan Akhirat, semakin diperkuat agar di sisa usia kita ini, dalam perjalanan memperoleh RidhoNya, dan memperbanyak Bekal untuk kehidupan Akhirat, tidak lagi terbuang percuma karena kita terlena kehidupan sementara, dan pada akhirnya kita akan kecewa dan menyesal.

Terkadang Usia panjang masanya, tetapi sedikit manfaatnya. Terkadang Usia itu pendek masanya, akan tetapi lebih banyak manfaatnya…(Ibnu Athailah)

Kamis, 29 Maret 2012

Aku adalah Aku

Pernahkah kita merasa iri dengan kesuksesan, kehebatan, ketenaran, dan segudang kelebihan lain yang dimiliki orang-orang yang kita ketahui? Dan tanpa sadar kita begitu silau dengan kelebihannya, begitu senang mengetahui aktivitasnya yang penuh dengan inspirasi, dan kita teramat ingin menjadi sepertinya. kita merasa bahwa diri kita sangat jauh dari sosoknya yang berkilau. Jika dirinya ibarat bintang yang bersinar terang, maka kita ibarat awan hitam di langit pekat. kita hanya bisa mengintipnya, berharap suatu masa kan menjadi sepertinya. Ya, mungkin banyak di antara kita yang pernah merasakan hal tersebut. 

Namun apakah yang dapat kita lakukan? Hanya menjadi manusia yang iri dengan kelebihan-kelebihan orang lain, menjadi penonton segala kecemerlangan orang lain, atau kita justru ingin menjadi pribadi yang juga bisa mengibarkan segala potensi positif kepada orang lain? Pilihan tersebut ada pada diri masing-masing dengan Allah sebagai penggenggamnya. Sadarkah sahabat? Allah telah memberikan kita segudang potensi untuk dikembangkan, secerdas-cerdasnya akal untuk digunakan, seluas-luasnya ilmu untuk dipelajari, sejernih-jernihnya hati untuk diselami, sebaik-baik Agama (Islam) sebagai penuntun kehidupan. Maka tak adalagi alasan untuk kita tak mau berupaya memperbaiki diri, menjemput kesuksesan dunia dan akhirat. 

Aku adalah aku. 
Aku bukan kamu, dia, atau mereka. 
Aku adalah aku dengan segala kelemahan yang ada. 
Aku dengan segala kelebihan yang Allah berikan. 
Aku yang berdiri tegak karena curahan cinta dan kasih sayang-Nya yang melimpah ruah. 
Maka Aku, adalah aku yang kan bersinar terang dengan jalanku tuk menyinari sekitar karena-Nya. 

Mungkin kita masih iri karena melihatnya di luar sana semakin berkilauan, sementara diri kita masih merangkak menuju langit cita dan cinta. Aku, kamu, dia, dan mereka sudah Allah berikan alur hidupnya masing-masing. Tak usah berkecil hati jika saat ini kita belum sesukses, secemerlang, sebaik ia yang telah lebih dahulu menjemputnya. Tak salah jika kita mengaguminya, tetapi jangan sampai membuat kita lupa diri. Justru yang harus kita lakukan adalah banyaklah belajar darinya, ambilah energi positif darinya, dan terapkanlah energi itu dengan caramu sendiri. 


4:32

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. An-Nisaa’ : 32) 

Kembangkanlah potensi yang kita miliki dari segi apapun, entah itu dari segi pendidikan, sosial, keagamaan, kesehatan, kesenian, olahraga sesuai kesanggupan kita. Berjuanglah sungguh-sungguh untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik di mata Allah. Tak usahlah risau jika tak ada manusia yang memuji kita, mendukung kita, melihat kita. Karena yang kita butuhkan hanya penilaian di mata-Nya. 

Penilaian yang lebih hakiki sebagai penentuan berguna atau tidaknya sesuatu yang telah kau usahakan itu. Yakinlah, kita akan selalu punya tempat di hati segenap manusia dengan sinar kita yang unik. Yakinlah bahwa kita akan mampu menjadi secemerlang dirinya ataupun bahkan lebih dari itu. Percayalah bahwa “Aku adalah Aku. Aku bukan kamu, dia, atau mereka. Aku adalah Aku yang kan bersinar terang dengan jalanku tuk menyinari sekitar karena-Nya.” Just be your self, bersinarlah dengan caramu sendiri.

Selasa, 28 Februari 2012

Pertolongan Allah Amat Dekat!!! Kenapa Kita Mengeluh???


Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat
::QS Al Baqarah 214::

Hai orang yang bosan dengan kehidupan, yang tidak bergairah dalam hidup ini, yang hari-harinya sempit dan jalan nafasnya tersumbat.
Disana ada kemenangan yang nyata, pertolongan yang semakin dekat, jalan keluar dari kesempitan dan kemudahan setelah kesulitan.
Disekitarmu ada hal-hal kecil yang tersembunyi, ada cita-cita yang indah, ada masa depan yang menjanjikan dan ada janji yang pasti.

(sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjiNya
.:: QS Ar Rum 6 ::.
Apa Yang Kita Keluhkan,,..???

~Ketika kita mengeluh : “ Ah mana mungkin … ”.

Allah menjawab : “ Jika AKU menghendaki, cukup Ku berkata “Jadi”, maka jadilah ” (QS 36 : 82).

… ~Ketika kita mengeluh : “ aku Capek banget … ”.

Allah menjawab : “ … dan KAMI jadikan tidurmu untuk istirahat ” (QS 78 : 9).

~Ketika kita mengeluh : “ Berat banget yah, gak sanggup rasanya … ”.

Allah menjawab : “ AKU tidak membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupan ” (QS 2 : 286).

~Ketika kita mengeluh : “ Stressss nih … Hati gak tenang … apa ya yang bisa membuat hati tenang”???.

Allah menjawab : “ Hanya dengan mengingatku hati akan menjadi tenang ” (QS 13 : 28).

~Ketika kita mengeluh : “ Yaaaahh … ini mah semua bakal sia-sia … ”.

Allah menjawab : ” Siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarah sekalipun, niscaya ia akan melihat balasannya ” (QS 99 : 7).

~Ketika kita mengeluh : “ Gila aja … Sendirian … gak ada seorangpun yang mau bantuin … ”.

Allah menjawab: “ Berdoalah (mintalah) kepadaKU, niscaya Aku kabulkan untukmu ” (QS 40 : 60).

~Ketika kita mengeluh : “ Duh … Sedih banget deh aku … ”.

Allah menjawab : “ La Tahzan, Innallaha Ma’ana. Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita ” (QS 9 : 40).

~Ketika kita mengeluh : aku benci hal ini ……?

Allah menjawab : …….. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS 2:216)

~ Ketika kita mengeluh : gak ada jalan keluar lagi kayaknya buntu deeeeh….?

Allah menjawab : ……Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. (QS 65:2)

~ Ketika kita mengeluh : rezekiku baru seret niih…… kalo gak ada pemasukan mana cukup buat memenuhi kehidupan sehari-hariiiii ?

Allah menjawab: Dan Allah memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. ……….. (QS 65:3)

~ ketika kita mengeluh : aduh banyak anak ,.. menjadikan kita miskin?

Allah menjawab : dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. (QS 17 : 31)

~ Ketika kita mengeluh : kapan pertolongan Allah datang……..?

Allah menjawab: …………………. sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS 2;214)

~ ketika kita mengeluh : aku ingin berdagang, tapi dagang apa ya yang keuntungannya besar banget?

Allah menjawab : Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS 61 : 10-11)

~ Ketika kita mengeluh : siapa sih yang pasti menepati janjinya jika dia berjanji….?

Allah menjawab : ……………Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS 9:111)

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan (Qs.Ar-Rahman)

Jumat, 24 Februari 2012

Jangan Biarkan Hati Membengkak karena Tersakiti!!!


Menyakiti dan disakiti adalah bagai dua sisi mata uang. Namun bagi sebagian orang, dunia ini adalah hanya tentang ego mereka. Mereka bisa sekehendak mereka berbuat jahat dan mainkan semau nafsu kapanpun dan dimanapun. Sampai- sampai mereka lupa bahwa ada sang Maha dari semua itu, yang dapat bertindak bahkan melampaui nalar normal manusia, untuk menuntun mereka memanen semua tindakan jahat mereka.

Bagi pihak yang tersakiti, kesedihan terasa begitu dalam dan membekas. Tidak ada satu resep dokterpun yang ampuh untuk menyembuhkan dendam. Ya, dendam yang akhirnya menghasut diri agar bertindak bahkan lebih kejam dari yang pernah diterimanya.

Terkadang kita lupa, masih ada kamera 24 jam yang dengan Maha bijaksananya akan bertindak adil kepada kita. Tak perlu kawatir, bahkan tindakan itu dijamin akan lebih canggih dari yang pernah kita duga. Lalu untuk apa harus ada berkarib dengan dendam?

Dendam adalah sangat erat kaitannya dengan sebuah rasa putus asa. Jika anda ingin sembuh dan bahagia seperti sedia kala, jangan menyerah kepada perasaan putus asa itu, yang dengan kata lain mengiklaskan diri anda anda sendiri untuk jatuh lebih dalam pada sebuah penderitaan. Kehidupan adalah bukan hanya tentang orang yang telah menyakiti anda. Jangan memfokuskan fikiran hanya untuk seseorang yang jelas- jelas sudah tidak menghargai keberadaan dan menyakiti anda yang begitu berharga.

Anda begitu berharga, anda begitu istimewa saat diciptakan oleh Allah Subhanahu Wataala sampai- sampai Dia mengajarkan kepada anda sebuah kebaikan lewat jalan yang unik yaitu kesabaran. Karena justru sabar adalah cara instan pemuliaan atas diri anda sendiri. Tidak percaya?.. mari kita refresh kembali ayat ini,

"Apakah kamu mengira akan masuk surga padahal belum datang kepadamu (ujian) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kami. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, diguncang (dengan berbagai cobaan). Sehingga Rosul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, "Kapankah datang pertolongan Allah?" Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat."

(QS. Al-Baqarah: 214)


Dan janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman."

( QS AL Imran (3) : 139 )


"Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dan sedikit ketakutan, penyakit, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar ".

(QS. Al Baqarah : 153 )

Sekali lagi, sabar adalah cara instan pemuliaan atas diri anda sendiri. Jangan terluka jika kalimat dan tindakan sabar anda, belum- belum sudah dicibir sekian banyak orang, namun lihatlah betapa anda menjadi manusia ajaib yang begitu disayang Allah, ditengah- tengah orang yang lengah dalam mendidik dirinya. Andalah pemenang dari kasus kehidupan anda kali ini.Yakinlah, sungguh Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya bersedih berlama-lama. Apa lagi jika kesedihannya adalah hal dan upaya untuk membesarkan dan membahagiakan diri dan sesama yang dicintai, apalagi jika untuk semua itu, anda harus melalui proses yang berjudul tersakiti.

Kesalahan bukan anda yang membuatnya, kesakitan bukan anda yang menginginkannya. Anda hanyalah korban dari sebuah keadaan yang kurang berpihak, namun jelas menjadi penguji kualitas iman untuk menjadi lebih baik. Jangan bersedih sekalipun semua didunia tidak mengharapkan dan menyakiti anda, karena anda ada di dunia adalah karena kehendak dan lahir dari kasih sayang Allah sang maha kuasa.

Hidup adalah tentang belajar, kita akan belajar bersama ketakutan, kesedihan, kehilangan, disakiti, didholimi dan sebagainya. dan walaupun sakit dan perih, namun kita harus berjuang untuk memaknainya.Karena Allah tak akan menguji melebihi kemampuan kita. Allah sayang kepada kita. Jika memang pengertian masih tidak bisa diajak kompromi dengan pedihnya perasaan,ingatlah satu hal.

Keegoisan diri bukan satu hal yang dapat membaikkan sesama, begitu pula untuk diri anda sendiri. Mengalah sedikit untuk meredam amarah justru akan melegakan diri. Selalu ada orang yang mulia dan hina di dunia ini, dan anda telah menjadi mulia dengan memaafkan. Andalah yang perkasa, karena dapat tegak dalam luka dan derita. Dari situ kitapun dapat belajar untuk mengerti dengan menerima hidup ini dengan segala pernak perniknya, karena pengertian adalah ilmu kehidupan.

...Selalu ada orang yang mulia dan hina di dunia ini, dan anda telah menjadi mulia dengan memilih untuk memaafkan...

Bangkitlah, jangan biarkan diri hanya mengurusi perasaan khawatir, sakit dan pedihnya hati yang anda anggap dapat menjadikannya sebagai obat mujarab penyembuh segala derita dan yang akan mendamaikan Anda. Segera berlakulah tegas melakukan yang sudah Anda ketahui untuk harus dilakukan, dan tunjukan bahwa anda adalah istimewa, tunjukkan bahwa anda adalah pribadi yang murah hati dan yang terlalu berharga untuk disakiti. Sehingga perasaan menyesal dan menghukum diri sendiri akan seketika mengakrabi orang yang telah menyakiti anda. Jagalah hati agar tetap damai, karena bentuk hati akan menentukan cerita episode anda selanjutnya.

Cinta itu indah, dan cinta tidak menyakiti. Kebesaran, keanggunan, kesabaran dan kemaafaan yang tetap anda jaga dalam tersayatnya perasaan tersakiti, menjadi bukti ampuh bahwa anda menjadi perwujudan indahnya kasih sayang Allah yang maha mencintai. Dan insyaallah, Allah selalu mencintai orang- orang yang sabar

Rabu, 22 Februari 2012

Membangun Impian + Action + Tawakal


Ketika ditanya, “apakah yang kamu inginkan di kehidupan ini?” Kemungkinan besar sebagian orang akan menjawab seperti ini, “ingin hidup bahagia dan sukses dalam karir.” Apakah para pembaca memilki jawaban itu juga? Memang menarik apabila kita membahas tentang impian. Penulis yakin hampir setiap orang mempunyai impian yang tinggi. Namun masalahnya adalah tidak adanya REAL ACTION untuk menindaklanjutinya.

Bahwasanya saat kita mempunyai impian, kita telah mewujudkan setengah dari impian itu. Setengahnya lagi adalah action untuk mewujudkannya. Contohnya adalah Bill Gates. Dulu Bill Gates mempunyai impian yaitu setiap melihat isi rumah melalui jendela, maka akan terlihat sistem operasi buatannya. Dengan action yang sungguh-sungguh, terwujudlah impian itu. Sampai saat ini “jendela” benar-benar menghiasai setiap rumah. Itu adalah salah satu contoh impian yang disertai action. Impian itu akan menjadi kenyataan.

Lalu kenapa banyak yang kesusahan untuk Action? Sebenarnya action itu tidak susah. Yang membuatnya tidak kunjung dilakukan adalah banyaknya belenggu terutama dari dalam diri. Yang pertama adalah berat untuk mengawali. Memang benar bahwa mengawali sesuatu itu terasa sangat membosankan. Apalagi memulai dari nol. Lebih enak melanjutkan sesuatu yang sudah berjalan. Padahal jika saja kita mau memaksa diri kita untuk memulai, lama kelamaan kita akan terbiasa dan menjadi nikmat untuk mengerjakannya. Jadi, jangan takut untuk memulai. Lakukan apa yang bisa dilakukan saat ini juga.

Setelah kita bisa memulai belenggu yang muncul selanjutnya adalah kegagalan, namun penulis lebih suka dengan kata belum berhasil. Masalah klasik apabila sesorang belum berhasil adalah enggan untuk melanjutkan. Yang biasanya terjadi adalah meratapi, menyesal, dan jera. Ibarat orang yang baru berjalan, tersandung lalu jatuh, kemudian duduk, menengok kebelakang, dan akhirnya diam bahkan menyerah. Akibatnya waktu terbuang untuk menyesal dan tidak akan maju-maju. Andai saja orang itu bangun, dia pasti akan jadi tahu bagaimana caranya agar tidak terjatuh lagi saat bertemu hal yang sama. Semakin lama justru akan semakin PD untuk berlari dan larinya akan semakin kencang. Jatuh itu pasti, yang belum pasti adalah bangun kembali dan berlari lebih kencang setelah terjatuh. Itulah yang membedakan setiap orang.

Bagaimana jika setelah berhasil bangun ternyata hasilnya diluar rencana? Misalnnya begini, Andre ingin menjadi arsitek tapi dia tidak diterima di jurusan arsitek, padahal Andre sangat hobi menggambar. Biasanya orang – orang menjadi pesimis menatap masa depan. Mungkin dalam benaknya seperti ini, “untuk apa dilanjutkan, udah ga mungkin lagi meraih impian”. Pemikiran tersebut sangat tidak benar. Bisa saja kan Andre mempunyai karir sebagai komikus terkenal atau lainnya karena bakat gambar yang dia miliki.

Penulis ingin bertanya, bisakah para pembaca mengetahui masa depan? Jika manusia normal, pasti tidak. Begitulah manusia. Dia tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Lalu darimana tahu bahwa masa depan telah hilang? Ingat, manusia hanya merencanakan Tuhan yang menentukan. Yakin dan percaya, bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik untuk umat-Nya. Jadi kita jangan pesimis dulu. Syukuri dan jalani saja semuanya dengan sungguh – sungguh dan senang hati, masalah hasil sudah ada yang mengatur dan pastinya itu yang terbaik.

Jadi para pembaca, peliharalah impian karena setengah dari hal besar telah terwujud melalui impian. Sempurnakan dengan action yang sungguh-sungguh agar impian menjadi kenyataan. Jangan takut untuk memulai. Lakukan apa yang bisa dilakukan saat ini juga. Saat belum berhasil, teruslah maju meskipun mungkin saja hasilnya kelak bukan bagian dari rencana, tetaplah berusaha semaksimal mungkin karena keyakinan bahwa ada rencana yang jauh lebih baik. Jadilah orang yang sukses dan bahagia. Lakukan semua dengan senang hati.

Jangan kamu menadahkan tangan dan berkata : “Wahai Tuhanku, berilah aku rezeki, berilahaku rezeki", sedang kamu tidak berikhtiar apa-apa. Langit tidak menurunkan hujan emasataupun perak.
(Khalif Umar bin Khattab).f) "
Bertawakkal lah kamu, seperti burung itu bertawakkal
". (Atsar dari Shahabat).Tak ada kebun tempat ia bertanam, tak ada pasar tempat ia berdagang. Tetapi takkurang, setiap pagi dia terbang meninggalkan sarangnya dalam keadaan lapar, dan setiap sore dia kembali dalam keadaan "kenyang".

Wallahu a'lam bishowaf.

Senin, 20 Februari 2012

Kecenderungan Manusia : Keluh kesah & Kikir


"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir". (QS. Al- Ma'arij: 19-21)

Al-Qur'an selalu menggambarkan setiap realitas kehidupan, kematian, alam semesta, bahkan kiamat dengan gambaran yang mengagumkan, bahkan juga sangat tepat dan menyentuh.

Ungkapan Al-Qur'an pun sangat sempurna ketika mengungkap watak asli manusia dalam ayat di atas, yaitu manusia yang hatinya kosong dari iman. Tidak ada yang melindungi manusia dari sifat-sifat buruk ini dan membersihkannya kecuali iman.

Iman yang mampu menghubungkannya dengan Sumber yang hanya di sisi-Nya ia dapat memperoleh ketenangan. Sumber yang menjadi tempatnya berpegang dengan kuat saat kesedihan datang mengelayutinya, bahkan membuatnya jatuh tersungkur karena tak kuat menghadapi kesulitan. Sumber yang dapat melindunginya dari sifat kikir ketika ia memperoleh kebaikan dan kelapangan hidup.

"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. (QS. Al Ma'arij: 19-21)

Dalam tiga ayat pendek di atas, sungguh seakan-akan setiap kalimatnya merupakan sebuah sentuhan dari goresan indah yang dibuat untuk melukiskan sifat-sifat manusia, dengan kalimat-kalimat singkat membicarakan gambaran kehidupan. Dari celah-celahnya digambarkanlah manusia dengan sifat-sifat aslinya, yaitu "keluh kesah" ketika ditimpa kesusahan dan "kikir" ketika mendapat kesenangan.

Hampir tiap hari, bahkan tiap saat kita selalu mendengar keluh kesah di tengah aktifitas kehidupan kita, keluh kesah yang kadang sangat erat hubungannya dengan kondisi jiwa dan iman yang sedang melemah.

Orang yang hatinya sepi dari iman itu mengira bahwa kesedihan itu bersifat abadi, kekal dan tiada yang dapat menghilangkannya. Ia pun mengira bahwa masa yang akan datang adalah akan menjadi petaka baginya. Maka dipenuhilah hatinya dengan bermacam kesedihan, sehingga ia mengira bahwa ia tidak akan terlepas dari kesedihan ini. Ia telah dimakan oleh kesedihan dan dirobek-robek oleh keluh kesah. Hal ini terjadi karena ia tidak berlindung kepada pilar penyangga yang kokoh bagi azamnya, dan tidak menggantungkan cita-cita dan harapannya kepada Allah.

Selain itu sifat aslinya yang lain adalah "sangat kikir" terhadap kelapangan saat ia mendapatkannya. Ia mengira bahwa keberhasilan itu karena upaya dan jerih payahnya sendiri. Karena itu ia lantas bersikap kikir kepada orang lain, dan memonopoli kekayaan untuk pribadinya sendiri. Sehingga, jadilah ia sebagai tawanan bagi kekayaannya, dan menjadi budak bagi kerakusannya.

Hal ini disebabkan karena ia tidak mengetahui hakikat rezeki dan peranannya. Ia tidak melihat kebaikan Tuhannya kepadanya karena sudah terputus hubungannya, dan hatinya sudah kosong dari merasakan keberadaan dan campur tangan-Nya.

Karena itu, ia selalu berkeluh kesah dalam kedua kondisinya. Yaitu, berkeluh kesah di saat susah dan berkeluh kesah ketika mendapat kesenangan, inilah gambaran buruk manusia ketika hatinya kosong dari iman.

Dengan demikian, tampaklah bahwa iman kepada Allah merupakan suatu yang sangat besar bagi kehidupan manusia."Iman bukan sekedar kata yang diucapkan dengan lisan, dan bukan pula sekedar simbol ubudiyah (pengabdian) yang diperagakan. Tetapi iman adalah kondisi jiwa dan manhaj (acuan) kehidupan, serta pandangan kehidupan yang sempurna terhadap norma dan nilai, peristiwa-peristiwa dan semua keadaan". Begitulah ungkapan Ustadz Sayyid Qutb ketika menguraikan penjelasan ayat ini.

Ketika hati kosong dari iman yang menegakkan dan meluruskannya ini, maka ia akan goyah, senantiasa terombang-ambing bagaikan bulu yang terbangkan angin, ia akan terus goncang dan takut. Ketika ditimpa kesusahan ia mengeluh, ketika dikaruniai kesenangan iapun kikir.

Adapun jika hati disemarakkan dengan iman, maka ia senantiasa tenang dan pemurah, karena selalu berhubungan dengan sumber segala peristiwa dan pengatur segala keadaan. Ia akan selalu merasa tentram dengan kekuasaan-Nya, mampu menerima ujian-Nya, selalu melihat solusi dari-Nya atas kesempitan, dan menemukan kemudahan dari-Nya atas kesulitan. Ia akan selalu menghadap kepada-Nya dengan kebaikan, karena ia tahu bahwa apa yang ia infakkan adalah rezeki dari-Nya dan kelak ia akan mendapatkan balasan dari apa yang ia infakkan itu, di dunia dan di akhirat.

Maka, iman adalah suatu usaha di dunia yang terwujud hasilnya sebelum mendapatkan balasan di akhirat, yang menimbulkan kegembiraan, ketenangan, kemantapan dan kestabilan selama perjalanan hidupnya di dunia.

Sifat-sifat orang mukmin yang dikecualikan dari sifat-sifat umum manusia itu dijelaskan batasan-batasannya dalam rangkaian ayat berikutnya, bahkan ayat-ayat ini merupakan sarana penting dalam mengikis dua sifat dia atas.

Sifat pertama yaitu "keluh kesah" dapat dikikis dengan sholat, karena sholat merupakan sarana berkeluh kesah yang sesungguhnya, yaitu berkeluh kesah kepada Allah yang dapat menghilangkan kesedihan dan kedukaan sehingga berubah menjadi kebahagiaan dan ketenangan.

Shalat lebih dari sekedar rukun Islam dan simbol iman. Ia adalah saran berhubungan dengan Allah dan tindak lanjut dari kesadaran batinnya. Maka sholatnya ini adalah sholat yang tidak pernah ia tinggalkan lantaran lalai ataupun malas. Kata "daaimuun" dalam ayat ini mengisyaratkan perhatian terhadap sifat keseriusan dan kesungguhan dalam hubungannya dengan Allah, sebagaimana hubungan inipun harus dihormati, karena hubungan ini bukanlah permainan yang begitu saja dapat disambung dan diputuskan sesuai selera.

"Allah berfirman: kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu senantiasa mengerjakannya". (Al Ma'arij: 22-23)

Sifat kedua yaitu "sangat kikir" dapat dikikis dengan cara melatih diri untuk biasa berbagi dengan kelebihan yang Allah titipkan kepadanya.

"dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)." (QS. Al Maarij: 24-25)

Perasaan dan kesadaran tentang adanya hak di dalam hartanya untuk orang miskin yang meminta-minta dan yang tidak meminta-minta adalah kesadaran tentang adanya karunia Allah pada satu sisi lain, yang melebihi keterbatasan perasaannya dari belenggu kekikiran dan kerakusan. Pada waktu yang sama hal ini menunjukkan adanya rasa kesetiakawanan sosial, rasa senasib dan seperjuangan dengan sesama masyarakatnya.

Al-Qur'an menyebutkan di sini, lebih dari sekedar melukiskan sifat-sifat dan ciri-ciri jiwa yang beriman. Akan tetapi, ia adalah salah satu mata rantai pengobatan penyakit kikir dan tamak dalam ayat di atas.

Wallahu a'lam bishowab.