Kamis, 13 Oktober 2011

Malu Bagian Dari Iman



“Bila Allah hendak membinasakan seorang hamba, Dia akan mencabut rasa malunya darinya. Bila rasa malu ini sudah dicabut, kau akan melihatnya dibenci dan di jauhi orang-orang. Apabila kaulihat ia dibenci dan dijauhi, dicabutlah sikap amanah darinya. Bila Amanah itu sudah dicabut, kau akan lihat dia menjadi khianat dan pengkhianat. Jika ia dianggap khianat dan pengkhianat, dicabutlah rasa kasih sayang darinya. Bila rasa kasih sayang itu sudah dicabut, kau akan lihat dia menjadi penjahat dan terlaknat. Apabila ia sudah jadi penjahat dan terlaknat, dicabutlah Islam darinya. (HR. Ibnu Majah)


Merinding Nggak Baca Hadist Diatas…??
Coba kita resapi hadist diatas, betapa dengan gamblang kekasih kita Rasulullah Saw memaparkan keadaan seseorang hanya dari satu sifat saja. Yaitu hilangnya rasa malu..!! Hanya karena tidak malu..atau malu-maluin diri sendiri, berakibat datangnya, nestapa, khianat, jadi penjahat, hilang amanah, dijauhi orang,dibenci dan seabreg keburukan lainnya.

Loh saya juga pemalu kok..!! nanti dulu harus kita bedakan mana namanya pemalu dan namanya MALU menurut syariat..lantas apa BEDANYA DOUUNNKK..
Tetapi membahas rasa malu yang kita kenal seharian akan terlalu panjang, mari kita cerita saja seputar RASA MALU yang dimaksud dalam hadist-hadist Nabi Saw.

Hilang Rasa Malu, Maka Kalbu Akan Mati .!!
Kaitan antara kalbu dan rasa malu sangatlah kuat, jika kalbu ini sudah dan bahkan sering diisi oleh nutrisi Iman, ilmu syariat dan lainnya pasti rasa malunya pun akan bertambah. Namun kebalikannya jika hati ini tidak pernah diisi dengan iman yang segar, cuman dibiarkan begitu saja, solatnya pun dari dulu gitu-gitu saja, baca Qur’an nya pun dari dulu cuman begitu saja, sedekah nya pun dari dulu cuman segitu-gitu aja, Alias tidak ada perubahan yang signifikan mungkinkah akan bertambah rasa malunya??
Kalau kalbu sudah dibiarkan terbengkalai, maka dipastikan lambat laun KALBU nya padam, sirna dan pastilah kalbunya tidak akan pernah menerangi akal dan raganya.
Kalau sudah begini:
Sudah tidak malu berbuat perbuatan tercela
menganggap sepele maksiat malah senang membicarkannya bahkan di awar2 ke orang lain
Antara dosa dan pahala nga ada bedanya
Kalau ada nikmat tidak bersyukur, kalau banyak kecewa bilang ke sana kemari hidup tuh ngak Adil
Senang melakukan keburukan, ejek sana, menghina disini. Apapun yang ditulisnya membuat orang sakit hati, apapun yang dikatakannya membuat orang benci
Ngak malu pada umurnya, semakin bertambah usia harusnya lebih banyak belajar agama
Tidak malu bahwa ibadahnya tidak berkualitas padahal bisa lebih jika berusaha
Tidak malu tidak pakai jilbab
Tidak punya rasa ingin lebih baik ibadahnya dari yang kemarin
Tidak malu sampai sebesar ini belum juga berbakti kepada Orang tua
Ngak malu dosa dah segudang tapi tidak tobat juga
Ngak malu terus-terusan minta bahagia, sukses tapi lupa dengan orang miskin, anak yatim
Ngak malu bisa hanging out ke mall, ke resto baru padahal nun jauh disana banyak anak yatim cuman makan combro…
Dan seterusnya

Loh Kok Bisa Begitu…?
Cuma perhatikan, kata HAYA (yang berarti MALU) diambil dari kata HAYAH (kehidupan) jadi seakan-akan rasa malu itu akan membuat kalbu seseorang itu hidup, membuat kalbu seseorang itu terus mencari jati diri. Maka pantas sekali jika rasa malu itu bagian dari Iman, sebagaimana kekasih kita Rasulullah Saw menegaskan:

Malu dan Iman saling berkaitan, jika salah satunya terangkat maka yang lainnya pun terangkat (HR. Hakim)

Malu itu bagian dari Iman, dan Iman tempatnya di surga. Sementara keburukan bagian dari hati yang sesat. Dan hati yang sesat tempatnya di neraka (HR. Tirmizi)

Ini Dia Nasihat Dari Seorang Celeb Surga
Ibrahim bin Adham, seorang Soleh, seorang celeb surgawi yang pantas kita dengar nasehatnya ketika ia ditanya tentang orang yang suka maksiat:
Jika kau mau maksiat, jangan maksiat di Bumi Allah
Jika kau mau maksiat, jangan makan rezeki Allah
Jika kau mau maksiat, jangan sampai terlihat oleh Allah
Jika datang malaikat maut menjemput, bilang saja tunggu dulu aku mau tobat dulu

Jadi Gemana Solusinya Douunkk…??
Hadirkan dalam hati rasa malu ini:

Malu Karena Sering banget Berbuat Dosa:
Jangan pernah menghitung ibadah kita, karena jika kita hitung pasti akan merasa sudah cukup, Anggap ibadah kita kecil dan tidak berarti, kalau sudah begini pasti ada keinginan untuk beribadah lebih banyak dan lebih baik. Coba banyangkan sekali saja sholat wajib, tiba-tiba kita ber ghibah (membicarakan keburukan orang lain) bukankah pahala solat itu hilang tidak berbekas? Jadi apa yang tersisa????

Malu Karena Lalai
Coba setiap doa yang kita panjatkan biasanya berkisar akan keinginan dan harapan kita yang belum wujud. Namun lupa bersyukur, lupa tahajud, lupa bakti ma ortu, lupa zakat, lupa sedekah, lupa ke pengajian, lupa membesarkan agama Allah dan sederet lupa lainnya.

Malu Karena Cinta
Lah aku juga punya pacar kok..aku cinta…wow..bukan itu maksudnya..pacaran malah menambah dosa, seindah apapun yang dirasakan. Malu karena cinta itu karena kita merasa kita cinta pada Allah dan Rasul, tapi kenyataanya emang kagak cinta karena:
Kalau cinta Allah kenapa tidak pernah membanyakan Asma Allah, padahal kalau cinta ke pacar, setiap detik,setiap saat selalu teringat..
Kalau cinta Allah kenapa susah sekali belajar Al-Qur’an, datang ke pengajian, ngak pernah membesarkan agama Allah.
Kalau cinta Nabi kenapa banyak sunnah-sunnah nya ditinggalkan? Wudhu aja kagak pernah belajar gimana yang benar, apalagi cara solat, bersiwak, cara tidur, cara makan dll
Kalau cinta Nabi? Apa punya buku sejarah Nabi di rumah kita?

Malu Karena Nikmat
Kalau merasa banyak nikmat Allah yang dirasakan, kenapa harus sedih, kenapa nga banyakin ibadah nya, kenapa susah disuruh dalam taat ???

Karena terlalu panjang cukup sekian

Semoga bermanfaat

Kamis, 15 September 2011

Taujih Ust Anis Matta (Silaturahim di GOR Bandung)

Mengambil keputusan besar seperti pernikahan butuh keberanian. Kita butuh keberanian seperti itu.
Shalat, zakat dan haji adalah ibadah bil fi'li (melakukan sesuatu). Shaum itu ibadah bil kaffi (menahan diri/tdk melakukan sesuatu).
Di Mekah dapat intimidasi, tapi perintahnya spy bertahan dan bersabar, di Madinah mulai diizinkan melakukan perlawanan
Modal utama kita dalam membangun peradaban adalah al quwwah ar ruhiyyah (kekuatan spiritualitas) Ciri peradaban naik adalah aqlaniyyah (rasionalitas). Dengan rasionalitas, produktifitas lebih besar (minimal sama) dari sumber daya
Ciri peradaban turun adalah syahwat dominan, maka dampaknya kehidupan hedonisme. Produktifitas lebih kecil dari sumber daya yg ada
Saat kaum muslimin bangkit, saat itu mereka tdk punya apa2. Tapi dibantai tartar saat kaum muslimin memiliki semua sumber daya
Dimanakah grafik peradaban islam? Peradaban islam sedang naik, peradaban yang lain sedang turun
Kalau sekarang kita harus bekerja tanpa sumber daya yang cukup, ketahuilah itu indikator peradaban sedang naik
Saat dakwah ini mulai tampil terbuka dalam bentuk hizb, kita tidak memiliki sumber daya yg banyak
Sumber daya itu sekunder. Ia akan mengikuti ideologi. Ketika ideologi diikuti follower yg fanatik, maka sumber daya akan mengikuti
Kita mulai dari nol membuat hizb dengan sumber daya yang terbatas. Alhamdulillah produktifitas luar biasa Jihad itu adalah manhajul hayat. Sebelum berupa perang, jihad itu adalah kerja keras, kemudian baru berkorban harta dan nyawa
Yang penting adalah semua sumber daya (diri, harta, nyawa) kita kerahkan sehingga kita produktif. Itu juga jihad
Jika DPR&Pemerintah buat UU wajib puasa 30 hari dalam 1 tahun. Kira2 akan diikuti gak? Enggak! Bgm kalau dijaga polisi setiap hari?
Tapi kemarin ada 1,5 milyar orang puasa dg sukarela. Tidak ada yg kontrol. Intinya agama punya wibawa lebih besar dari wibawa negara Negara dari dulu datang& pergi. Agama dari dulu tumbuh terus. Saat Rasul hijrah dg 200 org muhajirin, 70 org Anshor, 85 di Etiophia
Kini menurut data wikileaks, Jumlah muslim sekitar 1,9 milyar (sekitar 1/5 penduduk dunia). Diprediksi sebentar lg 1/4 dunia Rasulullah sudah wafat, tapi followernya nambah terus. Kalau twitter, mungkinkah nambah terus follower jika orangnya check out?
Rasul brsabda Romawi Barat (Vatikan) &Romawi Timur (Konstantinopel) akan dikuasai kaum muslimin. Mana yg lebih dulu? Konstantinopel!
Konstantinopel ditaklukkan sekitar 7-8 abad kemudian. Kini jarak waktunya sudah hampir sama utk takluknya yg satu lg
Yusuf Qardhawi: "Kalau dulu Konstantinopel kita taklukkan dg pedang, insya Allah Roma akan takluk dg lisan dan pena kaum muslimin"
Ahli ekonomi Amerika menyatakan bahwa kemunduran ekonomi penyebab utamanya demografi karena mereka zero growth.
Sepuluh tahun lagi piramida demografi Indonesia akan ideal. Dan insya Allah itu sama dg usia pertumbuhan aktifis dakwah jamaah ini
Agama& negara berbeda dalam mengelola manusia. Negara mendekati manusia dengan pendekatan mesin. Kalau agama yg yg dibangun manusianya
Negara seperti membangun pagar dulu, rumahnya terserah seperti apa. Kalau agama, membangun rumah dulu (manusianya).
Makanya ketika di Makkah tdk ada ayat2 hukum pemerintahan dll, umumnya ayat-ayat pembangunan akidah dan ibadah utk membangun manusia
Kita semakin yakin bahwa ajaran agama yg kita dakwahkan ini sesuai dg isyarat kebangkitan sebuah peradaban Selama ini kita dibuat tegang brhubungan dg negara. Spt upacara detik2 proklamasi. Semua org Ind tegang, tapi dubes2 banyak yg foto2
Spt ada org yg datang utk ketemu Umar dg tegang krn Umar penakluk Romawi & Persia. Ternyata Umar sdg tidur di masjid tanpa pengawal, Umar tidak menciptakan ketegangan dlm berhubungan dg negara, tapi dia melaksanakan tugas inti negara dg cara yg sederhana
Negara dan keluarga bedanya cuma skala. Kalau keluarga anggotanya 10, negara anggotanya jutaan. Tapi inti pengelolaannya sama
Mengelola negara itu masalah intinya pada self confidence. Bilal bin Rabbah mantan budak jadi Gubernur Syiria, berhasil!

Baitul Mal baru ada zaman Umar ikuti Persia, krn zaman Rasul &Abu Bakar tiada saldo. Zaman Umar ada saldo, baru mikir bgm kelolanya Itu ilmu ketemu di jalan. Wattaqulloha yu'allimukumuLlah... Kalau kita tidak jalan dan bergerak, kita tidak akan dapat ilmu..
Ada satu masa ketika agama jalan tanpa negara. Ada juga suatu masa ketika negara jalan tanpa agama
Negara itu blank spot yang bisa diisi oleh ideologi apa saja. Bisa kapitalis, sosialis, atau islam!
Kata Ibnu khaldun, "Semakin banyak orang jahat, maka semakin diperlukan negara"
Zaman Rasul dlm 10 thn hanya ada 1 kasus zina, itu jg eksekusi ditunda 2thn 9bln. Bgm dgn 65000 kasus di KPK. 170-an yg ditangani
Masukkan mind-set jihad dlm diri apapun yg kita lakukan. Intinya adalah menghubungkan sumberdaya dg pencapaian tujuan kita
Ketika kaum muslimin berhenti berjihad (dalam semua aspek kehidupan), pasti dia miskin :)

Kamis, 08 September 2011

Kerja Untuk Perubahan Masyarakat



Oleh Ust. Rahmat Abdullah

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah, 9: 105)

Kecenderungan sufi murung, sudah nampak sejak zaman Rasulullah SAW, namun selalu mendapat koreksi dari beliau. Suatu masa dalam suatu perjalanan pasukan kecil beliau, seorang mujahid terpesona oleh keindahan wahah (oase) di tengah padang pasir dengan rumpun kurma, sebongkah lahan produktif dan sumber air yang cukup untuk seumur hidup.

Oh, alangkah nikmatnya bila aku tinggal di sini, beribadah kepada Allah dan tidak perlu lagi kembali ke Madinah, sehingga aku bebas dari gangguan masyarakat atau mengganggu mereka. Rasulullah SAW segera mengoreksi : "Jangan lakukan hal itu, karena kedudukan kalian di jalan Allah sehari saja, menandingi 70 tahun tinggal dan beribadah di sini.”

Hari ini ribuan surat kabar, radio dan televisi dunia bekerjasama di berbagai kawasan untuk menyebarkan fasad (kerusakan). Menyedihkakan nasib si miskin, yang mampu beli TV, tetapi tak bisa makan. Hati mereka dibunuh sebelum jasad mereka dihancurkan senjata pamungkas. Kemana ribuan kader yang hanya menggerutu tanpa berbuat apapun kecuali gerutu? Apakah masyarakat dapat berubah dengan gunjingan dari mimbar masjid?

Hari ini rumah umat kebakaran, tidakkah setiap orang patut memberi bantuan memadamkan api walaupun hanya dengan segelas air, dengan pulsa, perangko dan kertas surat yang dikirimkan kepada pedagang kerusakan dan menegaskan pengingkarannya terhadap ulah mereka yang sangat menyengsarakan masyarakat dengan siaran dan penerbitan fasad, sebelum mereka mengirim darah dan nyawa mereka kesana ketika usaha santun tak lagi membawa hasil?

Banyak upaya dilakukan. Sebagian menyentuh kulit tanpa isi. Sebagian memaksakan pekerjaan berpuluh tahun dalam waktu sekejab mata. Sebagian membangun simbol-simbol tanpa peduli substansi dan tujuan untuk apa wahyu diturunkan. Mereka yang senantiasa tadabur Al Qur’an akan melihat keajaiban ungkapan. Ketika Allah mengisahkan kedunguan ahli kitab yang bangga dengan status zahir mereka, Ia menyebutkan :

“Mereka mengatakan, takkan masuk surga kecuali (yang berstatus) Yahudi atau Nasrani. Itulah angan-anagan mereka”.

Dan ketika Ia mengisahkan sikap keberagaman kaum beriman, disebutnya prestasi mereka :

“Barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah seraya berbuat ihsan, maka baginya ganjarannya di sisi Tuhannya dan tiada ketakutan atas mereka, tiada pula mereka akan bersedih” (QS Al Baqarah:111-112)

Banyak orang mengandalkan nisbah diri dengan nama besar suatu organisasi atau jama’ah, berbangga dengan kepemimpinan tokoh perubah sejarah, namun sayang mereka tak pernah merasa defisit, padahal sama sekali tidak meneladani keutamaan mereka.” Barangsiapa lambat amalnya, tidak akan menjadi cepat karena nasabnya” (HR. Muslim)

Sabtu, 25 Juni 2011

Meningkatkan Kapasitas Pribadi dalam Amal Jama'i


"Demikianlah ciri kader PKS (tulisan aslinya PK), dimanapun dia berada terus-menerus memberi makna kehidupan. Seperti sejarah da'wah ini, tumbuh dari seseorang, dua orang kemudian menjadi beribu-ribu atau berjuta-juta orang."

Dalam satu kesatuan amal jamai ada orang yang mendapatkan nilai tinggi karena ia betul-betul sesuai dengan tuntutan dan adab amal jamai. Kejujuran, kesuburan, kejernihan dan kehangatan ukhuwahnya betul-betul terasa. Keberadaannya menggairahkan dan menentramkan. Namun perlu diingat, walaupun telah bekerja dalam jaringan amal jama'i, namun pertanggungjawaban amal kita akan dilakukan dihadapan Allah SWT secara sendiri-sendiri.

Karenanya jangan ada kader yang mengandalakan kumpulan-kumpulan besar tanpa berusaha meningkatkan kualitas dirinya. Ingat suatu pesan Rasulullah SAW : Man abtha a bihi amaluhu lam yusri bihi nasabuhu (Siapa yang lamban beramal tidak akan dipercepat oleh nasabnya).

Makna Tarbiyah itu sendiri adalah mengharuskan seseorang lebih berdaya, bukan terus-menerus menempel dan tergantung pada orang lain. Meskipun kebersamaan itu merupakan sesuatu yang baik tapi ada saatnya kita tidak dapat bersama, demikian sunnahnya. Sebab kalau mau, para Sahabat Rasulullah SAW bisa saja menetap dan wafat di Madinah, atau terus-menerus tinggal ber-mulazamah tinggal di Masjidil Haram yang nilainya sekian ratus ribu atau di Masjid Nabawi yang pahalanya sekian ribu kali. Tapi mengapa makam para Sahabat tidak banyak berada di Baqi atau di Mala, tetapi makam mereka banyak bertebaran jauh, beribu-ribu mil dari negeri mereka.

Sesungguhnya mereka mengutamakan adanya makna diri mereka sebagai perwujudan firman-Nya : Wal takum minkum ummatuy yad'una ilal khair. Atau dalam firman-Nya : Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnaas (QS : Ali imran : 110). Ummat yang baik tidak untuk disembunyikan tetapi untuk ditampilkan kepada seluruh ummat manusia. Inilah sesuatu yang perlu kita jaga dan perhatikan. Kita semua beramal tapi tidak larut dalam kesendirian. Hendaklah ketika sendiri kita selalu mendapat cahaya dan menjadi cahaya yang menyinari lingkungan sekitarnya.

Jangan lagi ada kader yang mengatakan, saya jadi buruk begini karena lingkungan. Mengapa tidak berkata sebaliknya, karena lingkungan seperti itu, saya harus mempengaruhi lingkungan itu dengan pengaruh yang ada pada diri saya. Seharusnya dimanapun dia berada ia harus berusaha membuat kawasan-kawasan kebaikan, kawasan cahaya, kawasan ilmu, kawasan akhlaq, kawasan taqwa, kawasan al haq, setelah kawasan-kawasan tadi menjadi sempit dan gelap oleh kawasan-kawasan jahiliyah, kezhaliman, kebodohan dan hawa nafsu.

Demikianlah ciri kader PKS (tulisan aslinya PK), dimanapun dia berada terus-menerus memberi makna kehidupan. Seperti sejarah da'wah ini, tumbuh dari seseorang, dua orang kemudian menjadi beribu-ribu atau berjuta-juta orang.

Sangat indah ungkapan Imam Syahid Hasan Al Banna, Antum ruhun jadidah tasri fi jasadil ummah. Kamu adalah ruh baru, kamu adalah jiwa baru yang mengalir di tubuh ummat, yang menghidupkan tubuh yang mati itu dengan Al Qur'an. Jangan ada sesudah ini, kader yang hanya mengandalkan kerumunan besar untuk merasakan eksistensi dirinya.

Tapi, dimanapun dia berada ia tetap merasakan sebagai hamba Allah SWT., ia harus memiliki kesadaran untuk menjaga dirinya dan taqwanya kepada Allah SWT., baik dalam keadaan sendiri maupun dalam keadaan terlihat orang. Kemanapun pergi, ia tak merasa kesunyian, tersudut atau terasing karena Allah senantiasa bersamanya. Bahkan ia dapatkan kebersamaan Rasul-Nya, ummat dan alam semesta senantiasa.

Kehebatan Namrud bagi nabi Ibrahim AS tidak ada artinya, tidaklah sendirian. Allah bersamanya dan alam semesta selalu bersamanya. Api yang berkobar-kobar yang dinyalakan Namrud untuk membinasakan dirinya, ternyata satu korps denganya dalam menunaikan tugas pengabdian kepada Allah. Alih-alih dari menghanguskanya, justeru malah menjadi bardan wa salaman (penyejuk dan penyelamat).

Karena itu, kader sejati yakni bahwa Allah SWT akan senantiasa membuka jalan bagi pejuang da'wah sesuai denga janji-Nya, intanshurullah yan shurkum wa yutsabbit aqdamakum (jika kamu menolong Allah, Ia pasti menolongmu dan mengokohkan langkahmu).

Semoga para kader mendapatkan perlindungan dan bimbingan dari Allah SWT di tengah derasnya arus dan badai perusakan ummat. Kita harus yakin sepenuhnya akan pertolongan Allah SWT dan bukan yakin dan percaya pada diri sendiri. Masukkan diri dalam benteng-benteng kekuatan usrah atau halaqah tempat junud da'wah melingkar dalam satu benteng perlindungan, menghimpun bekal dan amunisi untuk terjun ke arena pertarungan haq dan bathil yang berat dan menuntut pengorbanan.

Disanalah kita mentarbiyah diri sendiri dan generasi mendatang. Inilah sebagian pelipur kesediahan ummat yang berkepanjangan, dengan munculnya generasi baru. Generasi yang siap memikul beban da'wah dan menegakkan islam. Inilah harapan baru bagi masa depan yang lebih gemilang, dibawah naungan Al Qur'an dan cahaya islam rahmatan lil alamin.

oleh syaikhut tarbiyyah, Ust. Rahmat Abdullah

Jumat, 17 Juni 2011

AKP Kembali Menang, Berambisi Jadi Corong Islam


Partai Keadilan dan Pembangunan, AKP, yang menyokong kepemimpinan PM Recep Tayip Erdogan hampir dipastikan memenangi pemilihan umum di Turki. Sejumlah media lokal menyebutkan penghitungan surat suara yang telah mencapai 99% menunjukan AKP berhasil meraih 50% suara yang masuk.
AKP hanya membutuhkan sekitar 41 kursi lagi untuk bisa menguasai dua pertiga parlemen. Dengan suara mayoritas seperti itu maka AKP bisa mengamandemen konstitusi secara sepihak.
Dalam pidato kemenangannya, Erdogan mengatakan partainya akan mendiskusikan konstitusi baru dengan partai oposisi.
"Masyarakat telah memberikan kita pesan untuk membangun sebuah konstitusi baru melalui konsensus dan negosiasi," kata Erdogan kepada pendukungnya di Ankara.
Proyek besar
"Masyarakat telah memberikan kita pesan untuk membangun sebuah konstitusi baru melalui konsensus dan negosiasi."
Dalam pemilu kali ini AKP unggul atas partai sekuler, Partai Rakyat Republik, CHP, yang mendapatkan 26% suara dan partai kelompok kanan, Partai Pergerakan Nasional, MHP, yang hanya merebut 13% suara.
Kemenangan AKP -yang merupakan partai berbasis Islam dalam pemilu kali ini- tidak bisa dilepaskan dari sejumlah pencapaian pemerintahan pimpinan Erdogan.
Saat AKP berkuasa, Turki berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi yang cukup baik dan menelurkan kebijakan luar negeri yang lebih tegas.
Selain itu saat berada dibawah kekuasaan AKP, Turki juga berhasil menurunkan angka penggangguran hingga lebih dari 3% dalam setahun.
Dalam kampanye pemilunya mereka juga mendengungkan sejumlah proyek besar yang ambisius.
Beberapa proyek itu adalah pembangunan kanal dari Laut Hitam ke Aegea, sebuah kota baru di luar Istanbul, dan juga pembangunan jembatan, bandara dan rumah sakit baru.
Corong Islam Timur Tengah
Selain berjanji akan membangun sebuah konsitusi yang akan memeluk seluruh partai dan lapisan masyarakat.
Dia juga memberi signal bahwa Turki mempunyai ambisi untuk menjadi corong timur-tengah dan kaum Islam di dunia barat, dan mengatakan kemenangannya akan menguntungkan Bosnia, Libanon, Suriah, dan Palestina.
"Percayalah, Sarajevo juga telah menang seiring dengan Istanbul, begitu bula Beirut dan Izmir, Damaskus, dan Ankara, lalu Ramallah, Nablus, Jenin dan Tepi Barat dan Yerusalem menang bersama Diyarbakir," ujar Erdogan yang menyebut kota-kota di Turki dan menyandingkannya dengan kota-kota Islam di Timur Tengah.
Lebih dari 50 juta orang -atau sekitar 2/3 dari total rakyat Turki sebanyak 73 juta orang- terdaftar untuk ikut pemilu hari Ahad kemarin.
Diperkirakan persentase orang yang ambil bagian adalah sekitar 84,5%.
Kemenangan AKP -yang merupakan partai berbasis Islam dalam pemilu kali ini- tidak bisa dilepaskan dari sejumlah pencapaian pemerintahan pimpinan Erdogan.
Saat AKP berkuasa, Turki berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi yang cukup baik dan menelurkan kebijakan luar negeri yang lebih tegas.
Selain itu saat berada dibawah kekuasaan AKP, Turki juga berhasil menurunkan angka penggangguran hingga lebih dari 3% dalam setahun.*

Sumber : bbc

Kamis, 16 Juni 2011

Generasi Kuat dengan Syahadat


BESAR kecilnya tanggungjawab seseorang menjadi tanda kualitas syahadatnya, yang dapat diukur pada caranya memanfaatkan waktu. Seorang yang berkualitas selalu berusaha menumbuhsuburkan bibit syahadatnya agar dapat terus ditingkatkan lebih tinggi lagi.

Tiada waktu tanpa peningkatan kualitas syahadat. Tiada program kecuali peningkatan iman. Tidak mati kecuali dalam puncak jenjang syahadat, pasrah diri kepada Tuhan.

"Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah engkau mati kecuali dalam Islam." (Q.S. Ali Imran : 102).

Rute perjalanan yang harus dilalui untuk membuktikan syahadat bisa dikatakan singkat, bisa juga panjang. Hal tersebut tergantung pada kadar mujahadah, dukungan ibadah dan ukuran besar kecilnya tanggungjawab yang dipikul.

Namun demikian, dibalik perbedaan jauh rute itu, ada kesamaan irama dan ritme perjalanan. Jurang yang terjal, tebing yang tinngi pasti ditemukan dalam perjalanan.
Bahkan dengan tegas Allah merinci tikungan-tikungan tajam yang akan dilewati dalam perjalanan proses uji coba penentuan peringkat kadar kualitas syahadat dengan firman-Nya:

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang yang beriman bersamanya : 'Bilakah datangnya pertolongan Allah ?'. Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (Q.S. Al-Baqarah : 214).

Ada tiga tebing tinggi dan jurang terjal yang harus dilewati sebelum seseorang sampai ke titik kenikmatan yang dijanjikan oleh Allah. Baik kenikmatan dunia apalagi yang di akhirat.

Ketiga tebing dan jurang tersebut dialami oleh semua orang yang ingin menikmati surga, tak terkecuali Nabi dan Rasul Allah.

Sudah merupakan garis ketentuan Allah, atau sudah menjadi sunnatullah, hukum alam yang sudah pasti, bahwa untuk mencapai keadaan yang ideal diperlukan proses yang tidak ringan.

"Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah." (Q.S. Al-Ahzab : 62).

Andaikan para Nabi dan Rasul mengetahui jalan mulus menuju surga tanpa mengalami hambatan dan rintangan yang serba menyulitkan, tanpa malapetaka dan ujian, tanpa kesengsaraan dan kemiskinan, maka mereka tentu akan memilih jalan itu. Akan tetapi kenyataannya tidak begitu.

Semua Nabi dan Rasul mengalami nasib yang sama, menempuh rute perjalanan dengan ritme dan irama yang sama. Mereka menderita, selalu ditimpa malapetaka, ditimpa kemelaratan yang tiada tara, juga dihantui oleh perasaan yang serba takut.

Hanya imanlah yang memberikan kemampuan pada mereka untuk tetap berjalan dalam rel yang sudah ditentukan.
Bukan hanya itu, segala cobaan yang datangnya dari Allah mampu dimanfaatkan untuk mempertebal keimanan, bukan sebaliknya melemahkan iman.

Syahadat memang memerlukan proses pembajaan. Dan proses pembajaan yang baik hanyalah melewati berbagai kesulitan, karena sesudah kesulitan itulah akan muncul kemudahan. "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan." (Q.S. Al-Insyirah : 5-6).

Bila Malapetaka Datang
Malapetaka merupakan suatu kondisi yang sangat tidak menyenangkan, datang dengan tiba-tiba di luar perkiraan, dan tanpa persiapan sama sekali. Bila kurang waspada keadaan tersebut bisa berakibat sangat fatal. Bisa jadi peristiwa yang tiba-tiba itu membuat gairah jihad berkurang, ghirrah dan semangat juang menurun tajam.

Bahkan kadang begitu emosional menuduh dan mencap banyak pihak sebagai biang keladinya. Atau sebaliknya, menganggap hal tersebut sebagai taqdir yang wajar-wajar saja, tidak perlu dicari hikmah dan maknanya. Sangat disayangkan bila kondisi seperti itu tidak dimanfaatkan untuk meraih berbagai keuntungan.

Petaka yang menimpa kaum muslimin sebenarnya hanyalah ujian atau mungkin peringatan karena kasih sayang Tuhan. Bagi seorang pejuang kondisi seperti ini dapat dimanfaatkan minimal untuk konsolidasi organisasi, pengkristalan kekuatan, dan penyusunan ulang barisan yang lebih rapi, serta upaya koreksi ke dalam untuk perbaikan kebijaksanaan di masa mendatang.

Peristiwa itu patut dijadikan sebagai sentakan teguran, untuk terciptanya semangat dan motivasi baru yang lebih merangsang, lebih mendorong berbuat yang lebih baik.
Karena datangnya serba mendadak, wajar kalau membuat suatu kegoncangan. Nabi sendiri mengalami peristiwa itu.
Ketika kaum musyrikin Quraisy mencapai puncak kemarahannya, ketika Nabi menggantungkan diri pada perlindungan paman dan isterinya, pada saat itu keduanya diambil oleh Allah, mati. Saat itu jiwa Nabi betul-betul terguncang, sehingga tersebut tahun itu sebagai 'Amul Khuzn', tahun duka.

Boleh-boleh saja kita oleng karena badai dan ombak mengamuk begitu kuat. Tapi bagaimanapun kita tiak boleh sampai tersungkur jatuh atau kembali ke tepian. Di sinilah diperlukan seorang nahkoda yang cukup lihai mengemudikan kapal. Dibutuhkan seni kepemimpinan yang cukup handal.

Peristiwa seperti ini tak bisa dihindari. Pasti akan dialami oleh setiap orang yang hendak meningkatkan kualitas syahadatnya. Utamanya mereka yang menjadi pioner dan perintis perjuangan.

Dengan demikian harus disiapsiagakan diri menerima kemungkinan tersebut sebagai sesuatu yang bisa memberi manfaat bila diupayakan dengan baik. Sebab ia juga sekaligus berfungsi sebagai proses pematangan syahadat.
Melalui peristiwa ini akan terseleksi apakah mereka masih bersangka baik kepada Allah SWT, atau malah menuduh Allah dengan berbagai macam dakwaan?
Kematian kedua tumpuan Nabi, paman sekaligus isteri beliau secara beruntun adalah teguran dan peringatan Allah bahwa tak sepatutnya beliau bergantung pada keduanya.

Peristiwa itu sesungguhnya pelajaran bagi Nabi bahwa hanya Allah yang dapat melindungi dirinya, bukan karena kepiawaian pamannya, juga bukan karena kebangsawanan isterinya.

Melalui peristiwa pahit ini kita rasakan sendiri peringkat kadar kualitas syahadat yang kita miliki. Justru pada saat malapetaka itu datang, betapapun kecilnya, saat itulah kita bisa melakukan evaluasi. Itu tidak berarti kita kemudian mencari-cari malapetaka, sebab kalau demikian maknanya bisa lain, dan hasinyapun juga berbeda. Merencanakan serta mengundang malapetaka bisa bermakna menganiaya diri sendiri.

"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Q.S. Al-Baqarah : 195).

Keberhasilan untuk tetap stabil dan normal di dalam menerima sentakan yang seperti itu adalah wujud kemampuan memperlihatkan mutu kadar kualitas syahadat.
Perlu keluwesan untuk tidak terlalu kaku memahami ungkapan ini, sebab bisa saja malapetaka tersebut sifatnya tidak langsung.

Mungkin saja berbentuk kegagalan secara total beberapa target yang serius dikejar, atau kemacetan urusan setelah menelan tidak sedikit biaya dan tenaga, atau berupa peristiwa yang mengganggu serta merusak program yang sementara berjalan dengan baik.

Perlu diingat, malapetaka itu bentuknya sentakan, tidak terus-menerus. Peristiwa ini sesungguhnya hanya bersifat teguran peringatan, atau uji coba penjajakan, disamping upaya pemantapan syahadat. Sejauh mana seseorang itu bisa berprasangka baik kepada Allah SWT.

Itulah sebabnya terkadang terasa timbangannya demikian berat, sehingga seseorang dibuatnya kehilangan kendali. Peristiwanya bisa saja sejenak, tetapi pengaruh dan dampaknya yang lama dan berlarut-larut. Kalau kurang kontrol bisa mengundang malapetaka baru yang berkelanjutan.

Padahal andaikan kita mampu memahami apa arti setiap malapetaka yang datang, bisa saja malapetaka itu dijinakkan dan ditekan efeknya seminimal mungkin, sehingga tetap bisa dipetik manfaatnya.

Yang pasti, malapetaka ini sulit untuk dihindari sama sekali, sebab sudah semacam keharusan yang mengiringi keberadaan syahadat. Selama irama dan ritme perjalanannya mengarah ke depan, menuju sasaran dermaga yang telah ditentukan, bagaimanapun hati-hatinya pasti akan berhadapan dengan batu karang yang menghadang. Bertemu dengan ombak dan gelombang yang mengganggu, serta angin topan yang mengancam.

Beberapa kemungkinan bisa terjadi, entah kemudi yang patah, layar yang robek, petugas yang lalai, peralatan yang jatuh, perbekalan yang habis, atau kerusakan-kerusakan yang lain. Adanya persiapan menghadapi kemungkinan itu tentu akan menghasilkan akibat yang sangat berbeda dibanding tanpa persiapan sama sekali.
Ketiadaan persiapan akan menjadikan kepanikan dan kalang kabut begitu malapetaka datang. Akibatnya petaka lain akan terundang beruntun, karena fikiran tidak berfungsi dan hanya emosi yang dominan.

Dengan modal syahadat yang berintikan keyakinan, serta kesadaran akan realitas diri yang sudah dilengkapi oleh Allah berbagai instrumen dan peralatan yang memadai dalam menghadapi setiap malapetaka, hati pasti menjadi tenang. Dan satu lagi yang pasti, Allah selalu siap menolong hamba-Nya yang memerlukan.

Yang perlu kita sadari bahwa inilah resiko yang menjadi saksi nyata akan eksisnya sebuah Syahadat. Adapun selanjutnya bagaimana menghadapi setiap resiko, adalah soal seni, soal taktik, soal gaya, soal format perwatakan, soal kematangan pribadi, soal pengalaman.

Semuanya cukup mempengaruhi reaksi spontan terhadap setiap resiko yang terpaksa harus kita terima apa adanya.

Yang penting bahwa kita bisa memperoleh manfaat, setidak-tidaknya menjadikan diri ini sadar sepenuhnya akan keterbatasan kita, kemudian mengakui bahwasanya kekuasaan itu sepenuhnya di tangan Allah SWT. Dengan demikian datangnya malapetaka berarti kesempatan dan media untuk meningkatkan kualitas Syahadat.

Kamis, 09 Juni 2011

Melanjutkan Beramal dengan Lebih Cermat


"Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain". (Q.S. Al Insyirah: 7).
Waktu terus berjalan dan kerja-kerja dakwah pun terus menyeruak di hadapan seiring dengan bergantinya hari. Tidak layak kita terlalu berlama-lama berhenti atas nama evaluasi atau mengambil jeda sejenak untuk beristirahat. Amal dihadapan terlampau banyak untuk disebutkan, saatnya kembali menyiapkan barisan untuk menyambutnya, karena pada dasarnya setiap satuan waktu bagi seorang kader adalah potensi amal yang akan meningkatkan derajatnya di hadapan Allah SWT.

Sebelum kita melanjutkan amal, mari sedikit kita merenungi beberapa hal agar kerja-kerja ke depan kita semakin baik dan cermat karena ditopang dengan pribadi-pribadi yang kuat secara pemahaman, kokoh dalam keyakinan akan kebenaran manhaj dakwah dan ikhwan. Ada beberapa hal yang harus disadari oleh seorang kader :

Pertama : Tidak lagi menuduh jama’ah dalam kondisi lemah dan syubhat dalam kebijakan-kebijakannya

Syekh Muhammad Ahmad Ar-Rasyid dalam kitabnya “ Al-Awa’iq” berpesan :
“ Perilaku pertama menyangkut kita aktifis gerakan islam, intinya adalah : agar kita tidak berlebihan dalam menuduh diri kita dengan berbagai macam kelemahan. Kita harus yakin bahwa kita berada dalam kebaikan yang sangat banyak atas karunia dan anugerah Allah SWT. Memang, kebaikan tidak lah sempurna, dan kita tidak bisa menyamai kaum salaf, akan tetapi kita adalah orang-orang yg membawa pelita keimanan. Apabila kita bersalah, maka keimanan itu akan memperbaiki kesalahan kita .
Ini bukanlah ghurur (terpedaya), juga bukan memamerkan sedikit amal yg kita persembahkan untuk islam. Akan tetapi metode tarbiyah yang mesti wajib kita terapkan, agar kita tidak terperosok pada kesalahan sebagian ulama zaman pertengahan, ketika mereka terlalu banyak menyebut rasa takut dan terlalu banyak menyebutkan bisikan-bisikan hati dan hal-hal yang bisa membatalkan amal, sehingga manusia diliputi oleh keputus asaan yang berlebihan, karena mereka tidak membuka satupun pintu harapan yang akan mengimbangi rasa takut tersebut “

Hari ini selayaknya setiap kader menghentikan asumsi-asumsi negatif terhadap jamaah, tidak lagi menuduh jamaah telah keluar dari asholah, atau kebijakan-kebijakan qiyadah yang dipenuhi syubhat. Sikap-sikap itu hanya akan menghambat kerja-kerja dalam dakwah. Kita sudah mempercayakan orang-orang terbaik untuk memutuskan kebijakan dalam partai ini. Mereka pun telah berijtihad secara jama’I dalam menghasilkan keputusan-keputusan da’awi dan siyasi. Karenanya tidak layak setiap kader masih harus berfikir secara infirodi dalam menyambut setiap kebijakan dakwah dan partai. Karakteristik keputusan dalam wilayah ijtihad memang selalu menghasilkan polemik, tapi kita tidak sedang dalam posisi yang layak berpolemik dalam masalah ini. Hendaknya kita memahami sebuah kalimat hikmah :
" ليس العاقل هو الذي يعرف الخير والشر , ولكن هو الذي يعرف الخير بين الشرين "
“ Seorang yang pandai (berakal) bukanlah mereka yang mengetahui antara baik dan buruk, tapi yang mengetahui yang paling baik di antara dua keburukan “

Kedua : Memahami hakikat istiqomah dalam amal serta menjauhi berdiam diri (menganggur) dalam amal

Setiap kader hendaknya memahami bahwa salah satu ajaran Islam adalah istiqomah. Tidak ada jeda dalam melakukan amal kebaikan, karena waktu terus berjalan. Karenanya cukup jelas pesan dalam surat Al-Insyiroh : Faidza faroghta fanshob !. Jika kita lihat lebih dalam lagi, betapa syariat Islam menginginkan kondisi istiqomah dalam setiap amalan, nyaris tidak ada celah untuk berhenti dalam beramal –kecuali oleh hal-hal yg ditentukan syar’i. Kita bisa membaca karakteristik istiqomah melalui dalil tentang amal-amalan berikut ini, misalnya :
- Anjuran untuk berjihad dalam berbagai kondisi. (QS At-Taubah : 41)
- Anjuran untuk berinfak dan sedekah dalam berbagai kondisi. (QS Ali Imron : 134 )
- Anjuran untuk berinfak di setiap waktu. (QS Al Baqoroh : 274)
- Anjuran untuk berdzikir setiap saat sepanjang hari. (QS Thahaa 131 )
- Anjuran untuk berdzikr dalam berbagai keadaan. (QS Ali Imron 191 )
- Anjuran untuk tak kenal lelah dalam berdakwah. (QS Nuh 5 )

Begitupula kita dapati makna istiqomah dan berkelanjutan dalam kisah perang ahzab, betapa kemenangan yang diraih oleh kaum muslimin tidak serta merta mengantarkan mereka pada kenyamanan dan jeda istirahat yang panjang. Tetapi yang ada bahkan perintah untuk segera melanjutkan jihad menuju perkampungan bani quraidhah.

Dengan demikian, dakwah sebagai bagian tak terpisahkan dalam amal islami juga membutuhkan keistiqomahan dan berkelanjutan. Sebelum serta sesudah pemilu, bahkan ada atau tanpa pemilu sekalipun. Terlalu lama mengambil jeda atau berdiam diri dalam dakwah, hanya akan menyisakan potensi saling menyerang dan mengganggu sesama kader dakwah. Kita selami kata-kata hikmah di bawah ini :
العَسْكَرُ الذِي تَسُودُهُ البِطَالَةُ يُجِيدُ المُشَاغَبَاتِ
“ Pasukan yang tidak punya tugas, sangat potensial membuat kegaduhan”

Ketiga : Memahamai hakikat pembebanan individu untuk memunculkan semangat berlomba dalam kebaikan

Setiap kader hendaknya memahami bahwa setiap amal yang ia kerjakan tidak lain dan tidak bukan akan kembali pada dirinya sendiri. Bahwasanya setiap amal yang dikerjakan dengan adalah peluang untuk mendekatkan diri disisi Allah SWT. Bisa saja sebuah acara sukses dengan baik dan lancar, tapi penilaian amal disisi Allah SWT tidak bisa digeneralisir begitu saja, setiap orang akan mendapatkan pahala sesuai dengan kontribusinya. Karenanya, hendaknya setiap kader memahami bahwa ia harus terus beramal, karena pembebanan ini sifatnya individual, nilainya di akhirat adalah nilai dirinya sendiri, meskipun beramal di dunia secara jama’i. Kita renungkan beberapa dalil berikut ini :

فَقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا تُكَلَّفُ إِلَّا نَفْسَكَ
“ Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri “ (QS An-Nisa 84)
وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“ Barang siapa yang lambat dalam amalnya, maka tidak akan membuatnya cepat nasab (afiliasinya) “ (HR Muslim)

Setelah setiap kader memahami tentang sifat pembebanan dan penilaian yang bersifat individu, maka diharapkan akan memunculkan semangat berlomba dalam kebaikan, sehingga akan menghasilkan amal-amal yang terbaik. Ruuh at-tanafus atau spirit untuk berlomba dalam kebaikan telah banyak diisyaratkan dalam Al-Quranul Karim, diantaranya : ( QS Al-Maidah 48, QS Al-Baqoroh 148, QS Al-Muthoffifin 26, QS Ali Imron 133)

Keempat : Cermat dan senantiasa berbeda dalam menjalankan tugas

Ada banyak kesalahan yang terjadi karena seseorang meremehkan sebuah amal, menggampangkan sebuah taklimat, menyederhanakan sebuah mas’uliyah, dan akhirnya berakhir dengan kegagalan atau cacat dalam melaksakan kerja-kerja dakwah. Setelah kader mempunyai semangat untuk berlomba dalam kebaikan, semestinya hal itu tidak perlu terjadi lagi. Yang ada setelah ini adalah lebih cermat (diqqoh) dalam menjalankan setiap tugas, tabayun jika menemukan kejanggalan, dan berusaha untuk berbeda dan berprestasi dalam mengerjakan tugas-tugas dakwah. Sesungguhnya jiwa yang besar senantiasa akan enggan untuk mengerjakan sesuatu dengan kualitas yang standar dan biasa-biasa saja. Kita renungkan hadits berikut ini :
قَالَ رَسُولُ اللهِ: (إِنَّ اللهَ تَعَالَى يُحِبُّ مَعَالِيَ الأُمُورِ، وَأَشْرَافَهَا، وَيَكْرهُ سَفْسَافَهَا)
Rasulullah SAW bersabda : “ Sesungguhnya Allah SWT mencintai urusan-urusan yang berkualitas lagi mulia, serta membenci yang rendah (remeh-temeh) “ ( HR Baihaqi dan Thobroni, dishahihkan oleh Albani)
Dalam siroh sahabat kita juga bisa mengambil contoh dari sahabat sekelas Abi Bakar as-Shiddiq, beliau senantiasa menghadirkan amal-amal terbaik, prestasi yang berbeda dengan shahabat lainnya. Bahkan seorang umar bin Khotob beberapa kali berusaha untuk berlomba dengannya, namun akhirnya mengakui kekalahannya seraya berkata pd Abu Bakar : “ Aku tidak akan mampu mengunggulimu selamanya “

Kelima : Menjauhi ketaatan atas dasar kecenderungan nafsu semata

Setiap kader hendaknya kembali merenung, apakah ketaatannya selama ini benar-benar atas dasar ketsiqohan dan keyakinan akan kebenaran sebuah manhaj, ataukah hanya memilah-milah taklimat yang bersesuaian dengan kecenderungannya dan hawa nafsunya saja ? Sesungguhnya ketaatan berdasarkan hawa nafsu semata adalah rapuh dan berbahaya untuk kelangsungan dakwah di masa depan. Karena akan lebih banyak lagi taklimat dan qoror yang mungkin tidak bersesuaian dengan keinginan dan hawa nafsu kita. Yang seharusnya terjadi adalah setiap kader mampu menundukkan hawa nafsunya agar senantiasa bersesuaian dengan dakwah. Hendaklah kita mengingat sabda Rasulullah SAW :
لا يؤمن احدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به
Rasulullah SAW bersabda : “ Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian, hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (risalah islam) “ (Musnad Firdaus, An-Nawawi memasukannya dalam Arba’in)

Abdul Wahhab Azaam berkata : “ Mereka akan segera taat pada hal-hal yang mereka sukai, namun mereka akan bermalas-malasan pada hal-hal yg mereka benci. Apabila dihadapkan pada ujian untuk melakukan suatu hal yang tidak mereka sukai sekalipun di dalamnya ada kemaslahatan jama’ah, maka mereka akan berpaling sambil memberi alasan, atau mereka akan mentaati dengan terpaksa, dan melaksanakannya dengan hati kesal “

Syeikh Muhamaad Ahmad Ar-Rasyid mengingatkan kita : “ Sesungguhnya keta’atan yang bermuatan hawa nafsu merupakan peninggalan tabi’at bani israil, yang harus dijauhi oleh seorang mukmin. Bani Israil pernah meminta kewajiban perang di jalan Allah , tetapi kemudian berpaling ketika perang sudah diwajibkan “. Lihat QS An-Nisa ayat 76.

Selasa, 07 Juni 2011

Agar Semangat Dakwah Tetap Terjaga


Dikala Semangat (hamasah) Dakwah menggelora didalam jiwa, segala yang sulit akan terasa mudah, yang jauh akan terasa dekat, yang berat akan terasa ringan, bahkan setiap ujian yang datang akan menjadi ajang pendewasaan, Semangat itu seperti air yang terus mengalir sepanjang waktu laksana matahari yang tak pernah lelah menyinari bumi, jika dihalangi maka air itu akan mencari celah untuk tetap bergerak, jika dibendung ia akan naik meluap keatas lalu kembali mengalir,jika di tekan maka ia akan muncrat, berpencar bahkan dapat menghancurkan wadah tempat dimana ia dikumpulkan. SyaikhutTarbiyah, Almarhum Ustadz Rahmat Abdullah pernah menuliskan dalam butir- butir taujihnya gambaran tentang semangat perjuangan :

Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu

Begitulah jika semangat dakwah menggelora dalam jiwa, meskipun banyak fitnah datang menghadang, upaya makar yang dilakukan oleh musuh –musuh dakwah tak akan sanggup menghentikan derap langkah perjuangan. Lalu bagaimanakah meria’yah (merawat) semangat yang telah ada agar tak berubah?

1. Menanamkan jiwa Muroqobatulloh : merasa dekat dengan Alloh (Bersama Alloh)

Orang yang merasakan kedekatan dengan Alloh akan selalu termotivasi untuk melaksanakan perintah-perintah Alloh, dan memperjuangkan agama Alloh swt. Ia tak pernah takut akan AGTH (Ancaman,Gangguan,Tantangan, dan Hambatan) yang merintangi jalan dakwahnya, selalu bersemangat karena dia ingat motivasi dengan kisah Rasululloh bersama Abu Bakar As-Sidiq saat berada digua tsur : LAA TAKHOF WALAA TAHZAN INNALLOHA MA’ANA ( Jangan takut dan janganlah bersedih, sesungguhnya Alloh bersama kita)

2. Muhafadzotu ‘ala Sunnah : menjaga amalan sunnah
Nabi Muhammad Sallallhu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Tiap-tiap amal ada masa semangatnya dan tiap-tiap semangat ada masa futurnya (lemah semangatnya). Siapa saja yang futurnya tetap mengikuti sunnahku, ia telah memperoleh petunjuk. Siapa saja yang futurnya-nya mengikuti selain itu, ia benar-benar binasa"(H.R.Ahmad).

"Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ia berkata: telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,: "Sesungguhnya Allah telah berfirman: Barang siapa yang memusuhi Waliku maka sesungguhnya Aku telah menyatakan perang kepadanya, dan tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan senantiasa seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya jadilah aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, dan sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta (sesuatu) kepada-Ku pasti Aku akan memberinya, dan jika ia memohon perlindungan dariKu pasti Aku akan melindunginya".

(Hadits ini dirawikan Imam Bukhari dalam kitab shahihnya, hadits no. 6137)

3. Al-Jaalis Ma’ash-Sholihin : Berkumpul dengan orang yang semangat /Sholeh
“Seseorang mengikuti agama kawannya. Karena itu, lihatlah olehmu siapakah yang menjadi kawannya.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Pribahasa mengatakan “ jika kita bergaul dengan tukang ikan akan terkena bau amisnya, bergaul dengan tukang minyak wangi kita akan terkena wanginya,bergaul dengan tukang arang, terkena hitamnya” dst. Bergaul dengan orang sholeh akan memotivasi kita untuk selalu mengerjakan amalan-amalan yang sholeh, sebaliknya bergaul dengan orang yang malas beribadah (futur) maka akan menularkan kemalasannya kepada kita.

4. Laa Nabtagil jaahiliin : Tidak bergaul dengan orang jahil
وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ
“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil".( Q.S.28:55)

وَلاَ تَرْكَنُواْ إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ اللّهِ مِنْ أَوْلِيَاء ثُمَّ لاَ تُنصَرُونَ
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.”(Q.S.11:113)

Jika kita konsisten dengan kiat-kiat diatas insya Alloh kita akan terus menjadi orang yang bersemangat dalam ibadah, dakwah dan perjuangan menegakkan risalahNya.
Wallohu 'alam,

Sabtu, 04 Juni 2011

Memang Seperti Itulah Dakwah


Memang seperti itulah dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu..Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai..Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. . Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari..

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.

Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.

Tidak... Justru kelelahan.

Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih "tragis".Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani...justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi... akhirnya menjadi adaptasi.Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada. Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga "hasrat untuk mengeluh" tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya "ditinggalkan" , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..

Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yg takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, "ya Allah, berilah dia petunjuk... sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang... "

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta... Mengajak kita untuk terus berlari...

"Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu."